Pages

Showing posts with label daily weirdo. Show all posts
Showing posts with label daily weirdo. Show all posts

Wednesday, October 24, 2012

Apa dong?

Biasanya sebisa mungkin saya bikin aturan satu postingan tiap bulan agar tidak lupa kalau saya punya blog. Haha, tidak penting sih alasannya dan postingannya juga...lebih tidak penting lagi. Tapi beberapa bulan terakhir hidup saya terasa agak kelam *lebay* dan kekelaman itu menyedot energi saya. Energi yang dalam keadaan normal agak surplus dan saya salurkan dengan melakukan kegiatan aneh, salah satunya blogging. Alhasil, bulan Juli, Agustus, dan September blog ini nihil tulisan.
 
Tapi sekarang, saya sudah kembali, amigo, fufufufu..
Dan ini postingan comeback saya yang fantastis. Fantastis absurdnya.

 "jadi sebenarnya inti tulisan ini apa sih?," pikir orang-orang yang terjerumus membaca.

 "iya ya, apa sih?," saya sendiri juga ingin tahu. Enaknya apa dong?  





n.b: dibuat dalam keadaan trance setelah mabuk teh botol dan gambar-gambar unyu di atas diambil secara paksa dari dramabeans.com

Thursday, March 29, 2012

to be a jobseeker, to be grateful


Sudah hampir tiga bulan saya sibuk menganggur (ambigu :3). Mencari kerja tentu jalan terus tapi karena jeda antar tes agak berjauhan, sebagian besar waktu saya bisa dibilang habis untuk bersantai. Leyeh-leyeh ndek hamur karo kukur-kukur begitu lah. Hehe. Beberapa teman yang juga berprofesi (halah) jobseeker sudah mulai lelah tes ini-itu dan jadi emosian. Iri berubah jadi dengki, rajin mengeluh, dan mulai su’udzon pada Tuhan. Naudzubillah.

Nasihat untuk sabar seringkali dibalas cibiran “lha kon sek dilut nganggure, ayas iki wes meh setahun” (lha kamu masih sebentar menganggurnya, saya sudah hampir setahun) lengkap dengan pelototan jengkel. Tentu saya juga seringkali merasa jengkel karena mengonggok di rumah saja. Sudah masuk umur dewasa muda, tapi kemampuan finansial tak ada beda dengan balita. Belum mampu memberi apa-apa pada orang tua. Merasa tidak berguna.

Tapi kata-kata kedua orangtua saya kemarin siang serasa siraman air dingin yang menyejukkan. Memotivasi sekaligus mendorong saya untuk lebih bersabar. Berhubung ayah dan ibu saya bukan tipe Golden Ways, tentu saja mereka bukannya mengacungkan tinju ke udara sambil berteriak “jadilah sejahtera dan menyejahterakan orang lain” di hadapan saya. Lebih implisit, agak smooth gitu (opo se iki?). Jadi kemarin saya membuat jus semangka untuk diminum orang serumah. Setelah memberikan jatah masing-masing ke ayah, ibu, dan adik yang sedang berkumpul di ruang tamu sekaligus ruang keluarga sekaligus ruang makan sekaligus garasi (tempat apa ini sebenarnya? :3), saya kembali ke dapur. Sehabis meminum jus semangkanya, ayah dan ibu saya berbincang-bincang dengan tidak berbisik-bisik. Yang maksudnya sih, supaya saya dengar.

Ayah: “Duh, enake duwe anak wedok pengangguran. Malih sering digawekno jus” (Duh, enaknya punya anak perempuan pengangguran. Jadi sering dibuatkan jus)
Ibu: “Iyo,ngene iki kudu bersyukur. Mene lek wes kerjo adoh mosok sempat” (Iya, begini ini harus bersyukur. Besok kalau sudah kerja di tempat yang jauh mana sempat)

Saya jadi senyum-senyum kebelet nangis di dapur. Percakapan ayah dan ibu menyemangati saya, saya tidak akan selamanya jadi pengangguran. Pada saatnya nanti, saya akan mencicipi pahit-manisnya bekerja di perantauan. Ayah dan ibu juga membuat saya merasa less useless. Belum bekerja bukan berati saya tak berguna karena guna tidak hanya datang dari sisi materi. Saya memang belum bisa membantu keluarga secara materi tapi sekarang saya sudah bisa melakukan apa yang dulu tidak bisa saya lakukan (hah,mbulet). Contohnya kalau dulu saat masih kuliah semester-semester awal saya ngekos sehingga tidak bisa membantu ibu di rumah, sekarang saya bisa. Kalau dulu saat sudah tidak ngekos-tapi-masih-skripsi saya sibuk bertapa mencari wangsit, sekarang punya waktu lebih longgar untuk berinteraksi dengan adik. Saya sekarang bisa meringankan beban ibu, membantu adik, dan merawat ayah yang sedang sakit.

Alhamdulillah.

Semua tergantung bagaimana kita memandang berbagai situasi. Kehujanan saat naik motor itu bisa kita anggap bencana tapi bisa juga menjadi hal yang menyenangkan, ingat bagaimana kita begitu girang main hujan-hujanan saat masih kecil. Pun kejadian aneh saya merobohkan pintu ruang interview saat tes kerja. Saya bisa menangisi kemalangan yang mengancam kemungkinan diterimanya saya bekerja di tempat itu, belum lagi rasa malunya, terkilirnya tangan, atau lepasnya pita sepatu saya yang paling mahal karena saya gunakan untuk menahan beban pintu. Tapi saya juga bisa menanggapinya dengan sederhana. Saya bisa tertawa lepas karena kekonyolan itu terlalu komikal dan absurd dan membuat peserta lain yang tegang jadi agak rileks karena menertawakan saya. Ah, jadi cerita hal lain ya.

Intinya saya memang belum bekerja, tapi bukan berarti saya fully menganggur. Toh masih banyak yang bisa saya kerjakan, termasuk meng-improve seni memasak. Saya yang dulu selalu, anehnya, membuat nasi goreng yang rasanya pahit (usut punya usut ternyata bawangnya gosong :’)) sekarang sudah bisa membuat konsumen minta nambah lagi. Icik icik ehem ehem :p

Jadi, hai kawan semua, doakan saya bisa selalu dalam keadaan sadar seperti saat ini. Bersyukur, optimis, mengurangi rasa malas, dan mengurangi kegiatan mengeluh. Karena usut punya usut (halah) hal yang paling melelahkan adalah mengeluh. Keluhan akan menguras energi fisik dan mental. Membuat kita berpikir yang pahit-pahit dan kehilangan tenaga untuk terus berjuang.

Oiya, sekarang saya sedang gandrung pada surat pendek Al-Insyirah, hampir tiap sholat saya lafalkan (Tuhan, semoga Anda tidak bosan). Bahkan saat mengendarai sepeda motor sepulang dari meminjam komik. Surat ini juga menambah nyawa optimisme saya *cium-cium Qur’an.

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai, tetaplah bekerja keras. Dan hanya pada Tuhanmulah engkau berharap” (94:5-8)

Monday, November 28, 2011

The First Daughter's Horror


Ini postingan random dan sedikit galau oleh saya, yang sedang sibuk jadi time-waster dan sibuk pula cari-cari alasan untuk men-skip pengerjaan skripsi (lagi). Padahal tinggal revisi sedikit (definisi 'sedikit' agak bias,sih.haha), maka saya sudah bisa berteriak 'Hasta La Vista Kehidupan Mahasiswa!' dengan lantang.

Intinya sih, saya lagi pengin cerita tentang betapa beratnya beban hidup sebagai first daughter, err, anak perempuan pertama maksudnya, fyi: (tentu saja) bapak saya bukan presiden. Ah ya, saya first granddaughter juga dari kedua pihak orangtua saya. Beban hidup itu adalah ditanya-tanya dan digadang-gadang untuk segera walk down the aisle dengan pasangan yang seiman, mapan, dan tampan. Heheu.

Awalnya sih, topik itu cuma diangkat sesekali ketika saya berkunjung ke rumah nenek yang terletak di desa, dengan hubungan antartetangga yang masih sangat erat. Kalau yang ini saya tidak merasa tergengges karena sudah terjadi sejak saya menginjak remaja. Para panelis pun hanya tetangga-tetangga yang standar usia pernikahannya berbeda dengan saya dan keluarga. Saya malahan senang karena kerap diperbincangkan dengan kalimat seperti: 'aduh,putune wes perawan', dalam artian sudah cukup dewasa. Somehow, disebut perawan membuat saya merasa seksi, entah apa hubungannya :p

Tapi lambat laun usia saya pun mendekati usia standar pernikahan keluarga saya. Dan para nenek serta tante mulai menjadi gerah. Setiap ada reuni keluarga besar dan beberapa sepupu jauh sebaya membawa calon pasangannya, saya waswas mengamati reaksi para tante. Mata para tante tajam mengawasi saya, tersenyum senang seperti melihat barang diskonan, or else. Hehe.

Akhir-akhir ini do'a nenek setiap saya memeluknya saat datang berkunjung juga agak di-improve. Yang dulunya hanya mencakup poin anak berbakti dan kesuksesan akademis, kini ditambah (i've guessed this before, sigh) jodoh. Dan makin hari do'a tentang poin terakhir ini makin eksplisit dan detail.

Pergerakan nenek yang sangat smooth ini membuat saya lengah dan lupa dengan barisan para tante. Sampai suatu hari, tante yang terdekat dengan saya mengajak ngobrol berdua, wajahnya penuh senyum. Hm, saya merasakan dorongan ingin lari. Ada yang tidak beres. Tante berbicara dengan sangat smooth juga sih, tapi substansi dialog ini jelas sangat hardcore.

"Kamu mau nggak, Tante kenalkan dengan....."

Nooooooooooooooooooooooooo. Jangan Tanteeeeeee, saya masih terlalu mudaaaaaaaaaaaaa......

Rupanya Tante menyadari muka saya yang memucat, bibir membiru, dan senyum tipis saya yang mirip psikopat Ibu Dara.

"Kalau nggak mau, nggak pa-pa sih. Tapi mbok ya pacarnya sesekali dibawa ke sini, dikenalin," Tante tersenyum malu-malu. Saya jauh lebih malu lagi.

Setelah peristiwa horor babak pertama, yang unfortunately rasanya bukan yang terakhir itu, kehidupan saya kembali (agak) normal. Tidak ada acara reuni keluarga dalam waktu dekat sehingga saya bisa bernafas lega..... sampai kemarin. Sampai sebelum saya mendengar percakapan Ibu dengan teman lamanya di telepon. Fyi: saya tidak menguping, saya sedang mengobrol santai dengan Ibu saat ada telepon masuk, dan Ibu membiarkan saya mendengar percakapan itu. Entah kenapa saya harus menjelaskan, ya (O_o)\

Ibu : Kapan mampir ke rumah?
Teman : Nanti aja kalau 'njenengan mantu
Ibu : ........... (lalu menoleh ke arah saya dengan senyum senang seperti melihat barang diskonan)

Lalu saya bersiap untuk adegan babak berikutnya, saya buka gulungan skenario kehidupan asmara (yang diinginkan keluarga) dengan hati berdebar-debar,,

Title : First Daughter's Horror
Author : Destiny
Chapter Two

Fade in........



ps: image taken from marieclaire via dramabeans

Sunday, August 28, 2011

141 or 142 days to go


Kebiasaan buruk kalau sudah kumat stalking adalah nemuuu aja keburukan dan kekurangan diri sendiri dibanding dengan korban stalkingan. Huah. Kegiatan gak sehat, bikin penat, tapi semoga Tuhan tidak sampai melaknat :#)

Saturday, June 4, 2011

cute crush (?)

Saya ingat suatu kali, pas lagi suka2 nya sama seorang teman lelaki, dia bercerita tentang perempuan yang disukainya. Obvious enough kalau saya bertepuk sebelah tangan lah ya. Haha. Hm, saya kenal juga sama si perempuan ini. Eh, waktu itu belum kenal, sih. Hanya tahu sama tahu. "The Girl" mirip sekali dengan pemeran utama drama-drama korea yang sejak dulu memang favorit saya. Imut, cantik, kreatif. Wah, sangat menyenangkan dijadikan teman pokoknya. Tapi berhubung waktu itu saya lagi gandrung pada lelaki yang gandrung pada the girl, saya harus ambil posisi sebagai rival dong, ya *yang kalau dipikir2 lagi, ini sangat nggak penting banget gitu lohh*

Sebagai rival yang baik dan benar *heheh*, saya sering curi-curi pandang kalau melihat the girl di suatu tempat. Saya lihat cara duduknya, berjalan, berbicara, tertawa, memesan makanan di kantin.... wah, saya jadi terdengar semacam maniak sesama jenis. Tapi.. well, that's ridiculously the fact. Bagian stalkingnya, bukan maniaknya. Hehe. Tujuannya sih, tentu, untuk mengetahui kelebihan the girl. Siapa tahu ada yang bisa saya aplikasikan pada diri sendiri. Siapa tahu juga, si teman lelaki jadi berubah haluan dan naksir saya? *alay*

Semakin dilihat, the girl ini semakin kiyut. Gerak-geriknya semakin adorable, sangat tidak sehat untuk atmosfer rivalitas kami. Sampai suatu hari, saya melihat teman lelaki yang saya sukai itu berdua-duaan dengan the girl. Aaaahhhhh, saya tidak sukaaaa. Jangan dekati idola sayaaaaa................. Adegan hancurnya hati saya waktu itu adalah sesuatu yang wajar.



Kalau kecemburuan saya tertuju pada the girl.
Tapi tidak. Saya cemburu pada the.....boy.
Karena sekarang (sekarangnya saat itu), saya menyukai the girl.
Haha. -_-"

Lalu setelah sekian lama saya tidak bertemu the girl, hari ini accidentally saya nemu dan membaca blog-nya. Wah, dia masih imut >.<

Ngeri.

Ah, saya memang selalu silau melihat yang imut-imut.
Itu masih dalam batas normal kan, ya? Hahah *nervous*

image source:bright-gift.net

Sunday, February 13, 2011

jungle pull out the jerk

*judul postingan ini aneh dan diragukan tingkat korelasinya, lupakan saja*


Berada di alam terbuka akan menunjukkan jati dirimu yang sebenarnya.

Kuotasi di atas asli buatan saya, terinspirasi oleh rasa kantuk saat menulisnya *weh* dan ingatan akan petualangan akhir bulan kemarin.

Petualangan itu sebenarnya terlarang, karena Ibu selalu mewanti-wanti agar saya tidak pergi ke pantai atau danau tanpa pengawasan beliau, Bapak, atau suami saya di masa depan. Wew. Larangan keras ini bersumber dari hilangnya seorang kawan Ibu di laut jaman beliau masih kuliah #ngeri membayangkan Ibu yang dulunya terkenal senang memakai rok mini. Seingat saya, ini satu-satunya hal yang dilarang keras oleh Ibu, selebihnya saya selalu diberi kebebasan penuh untuk menentukan apa yang akan saya lakukan. Maka, pikiran akan Ibu yang saya langgar kepercayaannya cukup membuat saya merasa bersalah sepanjang perjalanan ke Pulau S, pulau kecil di selatan Malang.

Tapi..yah..apa yang terjadi, terjadilah.. *jreng*

Saya berpetualang ke Pulau S bersama beberapa orang kawan. Mencarter angkot sampai ke pantai S, lalu menghabiskan lima belas menit menyeberang menggunakan perahu motor kecil ke pulau S. Tujuan saya dan teman-teman adalah laguna di ujung pulau. Laguna ini terbentuk dari air laut yang menerobos masuk daratan lewat karang yang berlubang.

Laguna ini sangat tersohor keindahannya dan pernah juga saya temukan sebagai background foto mas-mas yang saya idolakan semasa masih menjadi mahasiswa baru :) Ini membuat saya sangaaat penasaran ingin menapak sendiri pasir putih laguna bersangkutan. Hehe.

Tapi ternyata perjalanan menuju laguna cukup tidak manusiawi. Apa memang saya yang ngawur nekat berangkat di musim hujan? Mungkin tracking di musim kemarau lebih masuk akal? entahlah..

Yang jelas saya dan teman-teman tak menemukan jalan aspal *ya iyalah* di sana. Karena pulau S adalah pulau konservasi, yang "seharusnya tidak menjadi tujuan wisata, namun hanya untuk obyek penelitian" -seperti diungkapkan bapak polisi hutan-, jalanan menuju laguna khas hutan hujan tropis. Jalanannya terdiri atas tanah becek, kubangan lumpur semata kaki hingga sedengkul, pohon tumbang, akar, ranting, plus karang-karang tajam yang sangat menarik. Sangat Menarik jika dibaca saja dari buku. Musibah jika dihadapi secara nyata #lebayatun.



Track yang menyulitkan itu yang memicu kemunculan kuotasi di awal tulisan saya ini. Saat berjuang menghadapi lumpur yang menghisap kaki dan semangat itulah, tampak sifat dominan seseorang. Sifat dominan yang mungkin dalam keseharian tertutupi atau sengaja dimanipulasi, muncul ke permukaan ketika berhadapan dengan medan yang berat. Orang yang biasanya tampak care, di luar dugaan, menjadi sangat selfish setelah beberapa kali terpeleset tanah berlumpur dan tergores duri serta karang.

Seorang teman yang tiap harinya saya aniaya di kota *tsah* karena ke-letoy-annya, hehe, ternyata sangat santai dan menikmati perjalanan maut itu. Saya, yang sering sok-sokan menulis hobi 'berpetualang', mati kutu, tak siap menghadapi asyiknya spa lumpur. Ah, di kehidupan lalu saya memang bukan b*bi yang suka berkubang-kubang di lumpur #alasan

Saat-saat yang memedihkan itu sedikit banyak memberikan gambaran jernih tentang diri saya yang terkadang saya sendiri sulit pahami. Saya ternyata tak suka-suka amat berpetualang, apalagi yang ribet seperti itu. Saya hampir menangis ketika sudah terjatuh sekitar keseribu kalinya *halah* dan yang menahan saya menitikkan air mata dan pasrah berkubang saja di kolam lumpur, hanyalah rasa penasaran dan gengsi.

Itu, suka penasaran dan gengsian. Saya.

Dua hal yang semakin saya samarkan keberadaannya seiring bertambahnya usia. Saya mati-matian belajar berbagai ekspresi untuk meng-cover rasa penasaran saya yang membunuh banyak kucing #ini peribahasa itu loh. Saya juga bergaya humble dan nrimo sehingga orang-orang yang tak terlalu mengenal saya, tak terlalu merasakan aura gengsian yang menguar dengan bau lebih tajam daripada bibit parfum itu.

Dan hutan pulau S dengan sukses melucuti keduanya.
Teman yang selalu saya bully di dunia modern, sebut saja Mauli, nama sebenarnya, dengan sigap menarik tangan saya ketika saya duduk-duduk dalam lumpur sambil cemberut setelah terpeleset. Dia tersenyum-senyum kecil melihat ekspresi muak di muka saya. Senyum simpulnya seperti menyuarakan “gitu kamu biasane sok-sok an”. Heh, tunggu saja Mauli, setelah kita kembali ke peradaban, derajat aniaya saya ke kamu akan saya tingkatkan. Hahaha >:D

Alam liar yang sanggup menarik keluar kepribadian tersembunyi seseorang *opini ngawur lagi* memunculkan lampu menyala diiringi bunyi tring di atas kepala saya. Ha, kalau ada orang yang terlalu baik atau terlalu annoying sebaiknya dibawa jalan-jalan dulu lah menikmati rimba, siapa tahu mereka punya sisi tersembunyi. Mengenal mereka lebih jauh lewat alam akan mencegah under serta over-estimation kepribadian. Saya juga berencana untuk mengajak calon suami berpetualang ke pulau S. Jika ternyata sifatnya mayak, tinggal ajak menaiki tebing yang mengarah ke lepas laut selatan lalu menendangnya hingga jatuh :D

Saturday, January 22, 2011

keywords : whimper,exaggerate

I'm actually bored with the opening sentence "it's been a while since my last posting, blah.. blah.." but that's the fact anyway. There're always such space between my posting, according to my on-off mood #apology :)

Today i'm quite in the mood to write some weird thought of mine, useless one by the way, so don't bother..
These few days i'm on the low-mo-almost-depressed mind because of my academic stuff. Such a shame. Some people may say my academic life is just okay, or good, but it's like the worst for me. I get adequate reason for my whimper. I have five close-college-friends, two of them will graduate this week, three other on the way working over their 'skripsi', all of them got cumlaude GPA, and..... here i am. Still have one subject to take, not yet get the call for 'kknp', no idea for 'skripsi', and have an average GPA. Sigh.

That thing makes me feel like i've failed.
Like i have no future anymore. I'm the only one who suffer in this world. Fi, the righteous martyr. Heheh.
I was on that exaggerated worries for a week. I didn't want to socialize, just did anything pointless in my bedroom. Went out just to the bathroom or kitchen. Thank God my weight is stable. If it doesn't, maybe now i'm at a hundred kilos. Well, exaggerated.

Thank God again for creating my bond-by-fate and tied-by-blood sisters. Both of them inspire me, give me motivation, and courage as well, to dream again. To be 'me' as always. The dreamy, optimistic one. To take a step eagerly, riding my motorcycle without staring at the rearview mirror too much. We don't know yet what's to come, we can just do the best and pray. Sounds cliche, but i believe in that #faithful

There is no average me. Life experiences of every person cannot be compared. We are unique, great on our own way. No whimpers, bud. Let's reach our dream and enjoy the life! *sounds like a session in MarioTeguh GoldenWays.whatever.keh keh keh :D

and hey, i wish one day i will be in this place. My dear friends always said that i'm too wishful, but, who knows? Merciful God, hug my wishes. Amin..
 (i like the 'daily' place one other than the tourism object.it's more mesmerizing in my weird point of view:)

Thursday, September 9, 2010

Masa Muda yang Menggelora??

Q: Kegiatan apa yang paling sering dilakukan di bulan Ramadhan?
A: Puasa
Q: Heuhh,ya tau. Kegiatan selain puasa?
A: Buka bareng!

Undangan buka bersama memang seperti tidak ada habisnya ketika bulan puasa tiba. Buka bersama teman kuliah, teman satu SMA, teman main voli, teman satu SMP, teman SD, teman karang taruna, dst, dst. Daftarnya seringkali lebih panjang daripada satu halaman folio bergaris yang setiap garisnya diisi dua baris *lebay. Begitu juga yang terjadi pada saya Ramadhan tahun ini. Beberapa kali sampai bingung mencari-cari alasan untuk tidak hadir buka bersama karena kepala koki di rumah, alias ibu saya, murka masakannya terus-menerus diabaikan. FYI, saya juga lebih suka masakan ibu di rumah daripada masakan restoran paling enak sekalipun..

Lhah, apa hubungannya masak-memasak dengan titel "masa muda yang menggelora?". Mmmm, tidak ada. Hehe. Sebenarnya kali ini saya bercerita tentang hal-hal absurd yang pernah saya lakukan semasa SMP dulu. Hal-hal ini menghambur ke dalam ingatan kemarin sore, bersamaan dengan buka bersama teman seangkatan saat SMP. Kebanyakan teman tak pernah saya temui selama kurang lebih enam tahun. Mereka berubah, perempuannya lebih cantik, para lelaki lebih berotot =). tapi tetap ada karakter yang melekat, yang saya ingat lebih dari nama mereka. Senyuman si A dan gaya berdiri si B mengantar saya dengan sukses kembali ke enam tahun lampau, ke sebuah SMP favorit di pinggir kota, ke lapangan basket yang penuh dengan keributan manusia-manusia di awal masa remaja dengan seragam SD berlarian kesana kemari.


"Ayo cepat dik!", seorang kakak OSIS bertampang garang sibuk menertibkan para peserta Masa Orientasi Siswa(MOS) yang hampir terlambat mengikuti upacara penyambutan di lapangan sekolah yang dinaungi pohon-pohon rindang yang belakangan saya ketahui sering menjatuhkan bom ulat pada manusia yang berdiri di bawahnya. Saya yang berusia tiga belas tahun lebih sedikit saat itu, dengan potongan rambut yang disebut 'potong batok'(bagian belakang sangat pendek dan sejajar dengan poni yang pas di alis) dan wajah yang jauh lebih culun dari sekarang, celingukan mencari beberapa teman SD yang masuk di SMP yang sama. Tapi sepertinya tak ada yang satu kelas dengan saya. Saya hampir merasa sedih ketika pandangan saya tertumbuk pada barisan kecil yang memasuki lapangan dengan gagah (yang kalau saya pikir-pikir lagi ternyata sedikit lebay) dan berhenti di tengah-tengah, tepat di depan murid-murid baru. Barisan gagah itu ternyata adalah pengurus inti OSIS yang terdiri dari kakak-kakak kelas tiga. Mata saya yang saat itu belum minus jeli menjelajahi senior-senior itu dari ujung topi hingga ujung sepatu. Ada yang sipit, ada yang hitam manis, ada yang berambut kribo, dan puji Tuhan, ada seorang kakak ganteng berwajah indo berdiri di nomor dua dari ujung barisan. Ah, saya lupa apa jabatannya kala itu, kepala divisi sesuatu. Ketika dia maju ke depan barisannya dan mulai memperkenalkan diri, saya sadar itu adalah saat-saat penting dalam sejarah hidup saya. Ini adalah titik awal saya menyadari orientasi seks saya yang normal dan observasi pertama saya atas istilah lelaki tampan. Hehe..

Pada masa itu, masa hampir-pubertas, saya juga belum mumpuni dalam mengendalikan ekspresi. Apa yang saya pikirkan tergambar jelas di wajah saya sehingga setelah satu minggu MOS berakhir, hampir seisi sekolah(yang ini betulan dan tidak lebay) tahu kalau saya mengagumi si kakak OSIS tampan. Hal itu diperparah dengan ketidaksensitifan saya yang dengan semangatnya sering sengaja lewat depan kelasnya ketika membawa buku tugas ke ruang guru dan melongok-longok dengan gamblang di pintu kelas si kakak yang terbuka. Saya tidak pernah menyadari kenapa si kakak dan teman-teman sekelasnya menulis atau membaca dengan menahan senyum. Haaaaaahhhh, ternyata saya yang jadi hiburan gratis bagi mereka.

Semakin hari semakin banyak yang menggoda saya tentang si kakak tampan. Terutama teman-teman OSIS-nya. Pernah suatu ketika saya sedang melengkapi isi majalah dinding sendirian, seorang kakak OSIS yang berkulit hitam tetapi bermata sipit yang kini kabarnya telah menjadi ahli di sebuah perusahaan minyak asing, memandangi saya sambil tersenyum-senyum dari balik papan majalah dinding. "Kamu kapan ulangtahun?," tanyanya. "Masih lama kak," saya menjawab dengan bingung setelah beberapa detik tercenung. "Tapi hadiahnya aku kasih sekarang mau?," tanyanya lagi sambil menahan tawa. Saya yang masih merasa tak mengerti, menggaruk-garuk kaki dengan salah tingkah. Tiba-tiba si kakak hitam sipit menarik tangan seseorang yang sedari tadi berdiri di sebelahnya. Jeng...jeng... Sang kakak tampan melihat saya sambil tersenyum, fantastis. Senyum yang saya tuliskan sebagai 'senyum seribu kilowatt' di diary lawas saya yang berwarna pink norak dan ketumpahan es cincau.

Cerita saya dan si kakak senyum seribu kilowatt berakhir beberapa saat sebelum ia lulus. Momen klimaks yang akan selalu lekat bahkan dalam ingatan saya yang sangat lemah ini. Hari itu di jam istirahat, saya berdiri di depan kelas saya yang bersebelahan dengan kelas 3 dimana ada kakak kelas semasa SD yang saya kenal baik. Saya kemudian tak sengaja mendengar perbincangan kakak yang saya kenal itu dengan beberapa orang temannya yang hendak mengerjai saya. Segera saya berlari masuk ke dalam kelas dan duduk dengan waswas di bangku paling belakang. Tak lama kemudian, teman akrab saya memberitahukan dari luar pintu kelas kalau saya dicari kakak-yang-saya-kenal. Perut saya melilit. Saya yang sangat immature saat itu, menjerit-jerit ngeri dari dalam kelas. Rupanya jeritan saya malah membuat kakak-yang-saya-kenal dan beberapa temannya gemas dan masuk ke dalam kelas. Mereka menarik dan menyeret saya keluar kelas. Mungkin terdengar seperti bullying, tapi bukan, ini dilakukan dengan tidak bermaksud kasar. Saya tidak terluka secara fisik digandeng erat dan setengah diseret begitu, tapi rasa malu saya yang terluka parah. Haha. Saya dibawa hingga ke depan kelas kakak-yang-saya-kenal dengan disaksikan hampir seisi sekolah(lagi-lagi ini nyata,bukan hoax) yang tertarik pada keributan. Jeritan saya, sorakan kakak-kakak kelas 3.

Saya berhenti menjerit, atau lebih tepatnya tersedak, ketika menyadari tidak hanya saya yang diseret-seret. Sang kakak tampan juga diseret teman-temannya menuju ke arah saya. Gilaaaa..... Momen ketika saya berdiri berhadapan dengan kakak tampan menjadi pengalaman paling absurd sepanjang kelas 1 SMP, dan masih berada dalam urutan atas daftar pengalaman ganjil saya hingga hari ini. Kami berdiri saja ditonton sekitar seratus orang yang heboh bersuit-suit di sekeliling kami. Saat-saat aneh yang tidak tertahankan itu berakhir ketika kakak tampan dengan sabar tersenyum pada saya lalu berpamitan untuk kembali ke kelasnya. Mungkin ia kasihan melihat muka saya yang bersemu ungu dan tampak ngeri melihatnya menjulang di depan saya. Setelah ia berbalik, saya juga kembali berjalan ke kelas saya dengan sempoyongan diikuti pandangan tak puas dari penonton. Apa lagi?apaaa??? sudah habis harga diri saya *yang ini lebay. Hehee..

Tahun-tahun berikutnya di SMP juga penuh dengan kejadian-kejadian komikal yang cukup komersil yang mungkin bisa dijadikan novel teenlit *kepedean. Tapi berhubung posting ini sudah terlalu panjang, sebaiknya cerita konyol tentang masa SMP segera saya hentikan.

Anyway, bertemu dengan teman-teman lama bagi saya selalu menyenangkan, bahkan jika dulu teman itu sangat menyebalkan. Waktu membuat kita bisa menertawakan pengalaman atau setidaknya memancing senyum simpul. Ah, masa muda penuh gelora..


cerpen ganjil bagian satu

Wawawawawawawawawa. Saya senangggg sekali. Ini adalah tiga hari setelah saya memerjer dua blog saya menjadi satu agar lebih terurus. Konsekuensinya memang ada beberapa follower(cuma satu atau dua,seingat saya) yang hilang. Huhu,maaf teman-teman, ini kesalahan teknis, saya tidak memback-up link dulu dan main impor impor saja. Semoga kita berjumpa lagi di lain waktu. Huhuuuu,,,

Konsekuensi lain adalah tulisan-tulisan yang jadi bilingual. Hehe. But it's not a big problem, rite? Foreign language-nya hanya bahasa Inggris yang sudah jamak dipakai orang kok, bukan bahasa Tagalog atau apa...

Ohya, kali ini saya akan mem-post sebuah cerita pendek aneh yang berjudul aneh pula, bikinan saya dua tahun lalu, kurang lebih. Rencananya akan saya muat dalam beberapa bagian agar tidak memegalkan kepala pembaca (hah.kalimat apa ini)...

Ok, fasten your seatbelt, sediakan kantong untuk muntah and check it out,,

Lumpur Kentang Biyan

“Aku sudah nunggu satu jam tapi Kak Ucan gak datang, Tod”, airmataku hampir menitik. Kupandangi wadah kue berwarna pink muda transparan di tanganku. Lumpur kentang yang kubuat susah-payah tampak pucat, lembek, dan menyedihkan di dalamnya.

“Cuma ada dua kemungkinan. Dia hilang ingatan atau mati waktu mau ke sini.” Ekspresinya dingin tapi aku merasa hangat sangat menengadah memandangi wajahnya yang bersegi. Dia sendiri butuh dihibur tapi malah menghiburku. Aku tiba-tiba merasakan kehadiran Kak Ucan, bau parfumnya, debaran jantung dengan kombinasi aneh yang hanya terjadi saat ada dia. Aku menangis frustasi. Aku akan melemparkan kotak kueku ketika Toddy mengambilnya lalu memelukku erat-erat.

“Biar aku yang makan”, kata Toddy sambil menangkupkan tangannya di kepalaku seperti memegang anak kucing. Aku terisak semakin dalam.

---

Toddy diare selama dua hari berturut-turut setelah menghabiskan lumpur kentang spesial buatanku. Berminggu-minggu ia tidak doyan memakan apapun yang sedikit mirip dengan kue lumpur. Dia tidak mau meminum jus mangga atau makan pisang bakar yang menurutnya berwarna seperti kue lumpur. Karena kekonyolan itu, aku hampir lupa dengan perasaanku yang carut-marut karena kepergian Kak Ucan dan janji yang dibatalkan secara sepihak olehnya. Aku juga diam-diam bersyukur karena yang merasakan hasil eksperimen gagalku bukan kak Ucan yang kupuja. Kalau benar-benar Kak Ucan yang menjadi korban, bisa-bisa aku sekamar dengan Melissa, kakak Toddy. Ups, tapi jangan sampai Toddy tahu pengandaian yang menyinggung hati ini.

“Pinter juga itu si Raushan, lari dari kue beracunmu. Hamsiong!”, Toddy memaki. Aku tertawa getir. Au revoir, kak Ucan.

-to.be.continued.as.soon.as.possible-

Monday, September 6, 2010

lovely rain on holiday monday morning :))

Bonjour, everyone....
It's raining on my hometown rite now. Not a big rain. Not a light, one. Just perfect.

I always love rain since i'm a litte girl. The furthest time i remember when i was about three or four years old. I was standing on the sofa behind the window in my grandma's old house starring the rain. I love the way raindrops fell as a clear ball then dropped to the ground,, i love the smell, too.


When i was 14, i like to imagine being one of Harry Potter's friend, sitting beside him in the train, it's raining outside, the mistyque green hills are sparkling and wet, and we're waiting for Hogwarts. Honestly, i still hope for that moment till now :)

Another thing again i like about raining is i can be so easily write(about anyting,junk to mellow to serious) down my thoughts.I often get new weird-yet-original idea for my random short story or the spirit to make up my blogs or doing my homework with a big smile. Grin. Grin...

Right now, i get the second one. After million years( yes, i always so that hyperbolics) i don't care about my blogs, i want to see them, give new clothes, and post some posts i forget in my laptop. Some are new, when some are from past time in my e-diary. Maybe that's all boring. But, force yourself to enjoy that. LOL

Tuesday, February 16, 2010

entah apa seharusnya judulnya

ah.sudah lama saya absen posting. yang sinyal ngadat lah. yang jatuh sakit lah. hehe. tapi pagi-pagi buta begini tiba-tiba saya kangen pengen nengok anak. blog ini maksudnya. dan ternyata saya punya timbunan draft yang semuanya belum completed dan tidak ada satu pun yang jadi saya post-kan. nasibnya jadi mirip dengan cerpen (atau mungkin lebih tepatnya coretan yang saya anggap cerpen) yang menggunung di harddisk notebook atau tersebar di macam-macam permukaan(kertas, tisu, daun, etc) di rumah dan tempat kos. entah apa ya namanya. mungkin saya punya penyakit tidak-senang-mengerjakan-sampai-tuntas. tulisan-tulisan saya kalau dikumpulkan mungkin mencapai ratusan, tapi ya itu tadi, selalu mandheg di tengah-tengah. hanya nol koma sekian persen yang menjadi tulisan sempurna dan tidak menyebabkan pembaca repot mengarang sendiri lanjutannya =)

terlepas dari kealpaan saya untuk menyelesaikan tulisan-tulisan itu, saya rasanya punya banyak sekali ide di benak saya. ide segala genre. saya suka berkhayal dan mengomentari apa saja yang menarik bagi saya. mungkin itu sebabnya pikiran saya seperti melompat-lompat. sibuk memvisualisasikan satu ide lalu ide lainnya. begitu pula tulisan saya. juga cara saya berbicara. sudah seringkali saya mendapat teguran teman agar pembicaraan saya diurutkan, agar saya belajar mengungkapkan sesuatu secara metodis. yah, untuk even-even tertentu saya memang kemudian menyesuaikan diri dan berusaha tidak melompat-lompat dari stu hal ke hal lainnya. tapi untuk orang-orang terdekat, saya memang tidak bisa merubah diri. teman-teman saya harus siap menerjemahkan kalimat-kalimat serampangan-terkadang ambigu-terkadang dalam bahasa asing yang ngawur, yang saya gunakan ketika ingin mengungkapkan ide-ide saya. saya punya banyak data. anda sendiri yang harus memilah-milah dan mencernanya. hehe

nah,tiba-tiba pada detik ini saya ingat apa yang ingin saya posting sebenarnya, sebelum saya menulis kesana-kemari, tak karuan. saya tadinya ingin bercerita tentang betapa bencinya saya pada politik. betapa pejabat di televisi sampai teman-teman di lembaga pers yang melakukan praktik politik selalu sangat memuakkan bagi saya. saya lupa siapa tepatnya, tapi seorang tokoh nasional pernah berkata bahwa kebenaran politik bukanlah fakta. tapi kepentingan. ini jelas-jelas menambah rasa tidak suka saya pada duniapenuh kebohongan dan kolusi ini. tentang politik praktis yang dilakukan para pejabat di senayan sana, saya memutuskan untuk bersikap apatis saja. lagipula mereka memang politisi. tapi beberapa oknum di lingkungan organisasi yang saya ikuti di kampus, membuat saya sebal. lembaga pers ini, apalagi lembaga pers mahasiswa seharusnya netral. lebih netral daripada media mainstream. tapi sekarang lingkungan saya pun terasa sesak, sarat kepentingan. ketika seorang teman bilang semua yang saya pikirkan ini tidak penting, saya bingung harus menjelaskan bagaimana padanya. saya terjebak di tengah badai politik di daerah yang seharusnya bebas politik. saya tidak bisa menyeberang keluar, saya terjepit di tengah-tengah. saya merasa sangat tidak nyaman. satu lagi yang bikin saya membenci politik, selalu membuat tidak nyaman. seperti pembalut tanpa sayap mungkin. haha,,

ups,tulisan saya yang cuma segini ini ternyata punya lebih dari satu inti dan susunannya kacau balau. sebaiknya saya hentikan saja sebelum tambah meracau. mari kita sholat subuh saja =)

Tuesday, January 19, 2010

au revoir, vijay...

This morning one of my close friend, Dina, sent me a short sad message.

"fi, vijay's passed away..... :'("

Well,it's sad,but not so shocking. Every living creature has to go to somewhere up there one day,rite?including,vijay. Vijay Malhotra. Maybe you're guessing now, who is Vijay? A friend of exchange program? No. The guy next door? Another no. A movie star from India? Oh, please..

Vijay Malhotra is Dina's pet. Male hamster. I never like hamster before, because i can't find the difference between hamster and rat. Well, i'm not sweet. But i like Vijay. Cute, little hamster with white fur. And biting hobby. He bites everything, especially Dina's finger.

I guess he died because of dehidration. Dina treated Vijay like she treated her (dead) rabbit, Satsuke. Water is restricted for rabbit. Dina thought that water is restricted,too, for hamster. So, from the first she bought Vijay, about two weeks ago, she never let him drink.

But yesterday, we have talked to our junior on college, Rezdy, who has a hamster,too. He's so shocked when heard about Vijay and Tumi (Dina has two hamster) which never see water for about two weeks. He shouted, almost yelling to Dina,

"They will die tomorrow!Give them drink!"

Dina was so afraid and went home soon. She let them drink. But it's too late for Vijay. I'm hoping it's not too late for Tumi. Tumi is still alive rite now, although she looks so exhausted. Tumi, fight! Vijay, au revoir.....

Monday, January 18, 2010

this is weird

"i don't know what's rite and what's real anymore.
and i don't how i meant to feel anymore..
when do you think it will all become clear?
cause i'm being taken over by the fear..."

just like lily allen's lyrics above.
i'm undeniably confused.
few of my close friend-as i thought before-are changing.
our relationship getting worse.
unhealthy competition.
full of black campaign.
hello,you there,my lovely friends..
do you think it's really worth it?
you gave up our relationship for what? 'power'?
for being a leader on the community?
community that grown us up and made us good partner in crime?
oh please, it's so silly.so immature.
our friendship is more valuable.trust me,,

-fibiangliliana for fantastic four member-