Pages

Monday, August 9, 2010

we are perfect two

Well,hola everybody...
It's been a pretty long time i don't write anything on this room nor StoplesFi, my another blogging page. I've always on this kind of up-and-down mood. Sometimes i feel like borned to write, and another time i just don't know how to spell a word. Hehe. I will get my mood up often when i'm interested on someone or something. It's often happening when i'm in love. Euhh, what a hormon! And what i wanna tell you is i think i'm in love with someone, now. Errr, maybe not so that in love yet. He's like everything, so addicting, but i don't want to follow him into the dark, or something "dramatic" like that.
He's like jump from nowhere into my plain love life, if i could say i have one. I like this kind of feeling, warm when he's around. I like this kind of heartbeating. I like the color of my blushing cheek. I like my silly smile. Maybe it's all about me. Maybe he's just an open door to the light, not the light itself-who knows, from the darkside of my unpure heart. Haha. But, whatever, still, he makes me melting all the time she stares at me. I feel like a 15 years old gal :D
I just want to thank him for appearing the right time in front of me. Feels like shower to my flower. For almost a week, i just have single song in my playlist. It's "Perfect Two" by Auburn. That silly sweet lyrics and rythm fit me perfectly on this situation. I take some part of the lyrics below. Hey boy, i think you can complete me, and who knows if in the future you'll be the one i wanna marry :)

Perfect Two


You can the peanut butter to my jelly
You can be the butterflies I feel in my belly
You can can be the captain
I can be your first mate
You can be the chills that I feel on our first date

You can be the hero
I can be your side kick
You can be the tear
That I cry if we ever split
You can be the rain from the cloud when it's stormin
Or u can be the sun when it shines in the mornin


Don't know if I could ever be
Without u cause boy u complete me
And in time I know that we'll both see
That we're all we need

Cause you're the apple to my pie
You're th straw to my berry
You're the smoke to my high
And you're the one I wanna marry

Cause you're the one for me (for me )
And I'm the one for you (for u)
U take th both of (of us)
And we're the perfect two

We're the perfect two
We're the perfect two
Baby me and you
We're the perfect two


...

Monday, June 7, 2010

equal to junkist

when i felt rejected from happiness, you suddenly jumped into my life
then i felt no more cold and lonely
warm with your arms around
your smile clouded my head
when i felt safe and accepted, you suddenly jumped out from my life
then i realized you just a part of my endless illution
the drugs from the self-healing division produced by my brain
used like heroine for reducing the pain, my feeling-ache
it was joyfull, though more hurting the next morning i wake
i thought you were real
hey,i'm addicted to you

Tuesday, May 18, 2010

Terbunuh Masalah Bodoh


Seringkali contoh-contoh kasus Seperti Ini saya analisis dan pura-pura saya pecahkan. Seperti Ini, akan saya definisikan kemudian. Selalu saya menganggap jawaban dari masalah seperti ini sangat sepele. Segamblang satu ditambah satu yang tak mungkin menghasilkan empat, mutlak dua.

Tapi tidak berlebihan kalau banyak yang bilang, kasus seperti ini di dunia nyata tak mudah didapati solusinya. Dunia anak kuliahan memang surga. Betapa mahasiswa dimanjakan dengan beban dan lingkungan yang mendukung, pelajaran yang dapat dipetik seringkali manis, konflik yang ada seringkali tak bertahan lebih dari 1x 24 jam. Mudah. Serba dimudahkan. Longgar. Banyak keleluasaan.

Sekarang saya akan menerangkan definisi kasus Seperti Ini. Sudah jamak kita dengar mungkin. Seperti Ini adalah permasalahan idealisme. Ketika dunia nyata memaksa kita bertarung melawan idealisme sendiri. Lawan atau mati, teriak si dunia nyata.

Dulu, saya akan menertawakan legenda pertarungan melawan idealisme. Orang yang tak bisa mempertahankan idealismenya pasti orang yang lemah, tak jujur, tak lurus menempuh jalan hidup. Betapa mudah menjaga idealisme itu!, teriak saya. Dulu.

Sebab itu pula-lah dua minggu ini saya sangat sinis terhadap Fi. Fi yang itu. Yang pakai kacamata. Yang cupu. Yang suka menggampangkan persoalan. Yang sok-sok an pasti bisa mempertahankan idealisme. Fi, saya sendiri. I myself….

Dua minggu ini saya magang di sebuah media cetak mainstream-meminjam istilah kawan-kawan pers mahasiswa-yang fokus pada bidang bisnis. Beberapa hari di sana saya sudah merasa salah tempat. Segmentasi pasar media ini menengah ke atas. Bahkan produk ini tak diecer di jalanan. Hanya untuk berlangganan, dengan konsumen institusi-institusi besar dan para pengusaha.

Beberapa hari saja saya merasa media ini menuhankan angka. Persentase. Nominal mata uang. Seakan saya terkena dosa besar layaknya pezina kalau meliput berita-berita dengan angle lain. Angle yang makro, yang visioner, yang saya harap bisa jadi inspirasi. Tulisan saya dikebiri. Ditinggalkan bagian yang mengandung angka-angka saja. Telanjang. Tak lebih dari onggokan huruf yang menurut saya tak bermakna.
Saya tertawa-tawa menghadapi hal itu. Ah, memang saya yang salah, ini kan media bisnis, bukan media kemanusiaan, atau budaya. Ingat lagi segmentasi pasar, dodol!

Lalu sejak hari saya sadar itulah saya berubah. Saya membuat tulisan yang datar. Menyajikan fakta ala kadarnya, tanpa peduli tak ada yang bisa saya ubah dari ketidakbenaran di masyarakat yang saya tahu. Saya hanya menulis begitu saja,bertumpu pada waktu. Semakin cepat selesai semakin baik. Peduli setan dengan isi. Peduli setan dengan idealisme. Para pengusaha itu hanya butuh jumlah buruh yang mendemo pabrik mereka, minta kenaikan pesangon berapa. Tanpa peduli sejak dirumahkan, apa yang dikerjakan para mantan buruh itu, bagaimana mereka melanjutkan hidup. Apa yang harusnya diusahakan para pihak untuk mengembalikan mereka pada hidup yang layak. Hak mencari nafkah. Hak jadi manusia. Hei, saya memang harusnya mendirikan sendiri media yang khusus menyajikan masalah kemanusiaan, mungkin. Tawa saya tumpang tindih dengan tangis.

Dari berita sebuah parade budaya, yang ingin diketahui pembaca adalah berapa arus kas tiap harinya, besarkah profit bila menjadi peserta. Tak ada yang mau sampah tentang manfaat parade itu untuk anak-anak muda yang semakin tenggelam dalam budaya asing, hilang memori dan tak acuh pada budaya lokal. Hei, mungkin saya harusnya jadi kontributor media seni dan budaya. Atau media pemuda. Atau media kebangkitan umat. Atau apalah, yang jelas bukan media bisnis dengan pembaca menengah ke atas. Segmen ini mungkin tak lagi punya hati. Tak lagi berpikir menyeluruh. Semua harus material. Bikin piramida terbalik, Fi, yang detail jumlahnya di paragraf awal. Biar taipan-taipan yang miskin waktu itu bisa sekedar membaca paragraf satu dan sudah dapat apa yang mereka butuh. Nominal.

Hancur sudah idealisme ekonomi kerakyatan via jurnalisme sastrawi yang selama ini susah payah saya kembangkan. Dari nol saya pelajari, saya hayati. Saya jadi manusia hambar. Dengan tulisan hambar. Saking tak terbiasanya, tulisan saya bahkan jadi lebih buruk lagi, Cuma semacam agenda atau deskripsi event saja.
Sekarang, saya benci mencari berita, saya benci menulis, saya benci pada kekacauan pikiran dan perasaan saya. Saya benci orang yang membunuh idealisme saya… Orang itu sayangnya saya sendiri..

Tolong, siapapun, beri saya saran, atau motivasi, atau makian. Apa saja, tampar saya agar bangun dari tidur penuh mimpi buruk seperti ini. Tolong,tolong, apa yang sebaiknya saya lakukan untuk menyelamatkan jiwa saya, at least, kalau memang pekerjaan magang ini tak bisa saya pertahankan. Sebelum idealisme saya benaar-benar mati. FYI, dia sekarang sedang sekarat.

-fi,on a super bad mood-