Beberapa hari lalu, ayah meletakkan dua buah buku di meja belajar saya. La Tahzan dan La Tahzan untuk wanita, karangan Aidh al Qarni, bersamaan dengan pesan untuk membacanya dan mengurangi kegemaran membaca novel. Saya kaget. Apa ayah saya tahu kalau novel yang saya pinjam itu kebanyakan novel erotis? Haha. Bercanda.
Saya jelas menyukai La Tahzan bahkan hanya dengan membaca resensinya dan scanning pada 5 detik pertama. Ini karena La Tahzan banyak menggunakan sumber Al Qur'an sebagai pembanding ulasannya. Al Qur'an ini satu-satunya buku yang saya percayai sepenuh hati. Yang saya yakini sebagai hadiah keren dari Tuhan dan tanpa tendensi.
Sayangnya saya belum memiliki rasa tertarik yang sama pada La Tahzan untuk wanita karena pada scanning 5 detik pertama, saya melihat acuannya pada Al Qur'an tak sebanyak La Tahzan. Dan cara penyampaiannya sedikit terasa menggurui. Saat saya badmood, mungkin cara penyampaian seperti itu saya sebut dengan merendahkan kemampuan intelegensia perempuan. Tapi berhubung saya sedang goodmood, maka saya mencoba berprasangka baik. Hehe.
Hari ini saya membaca satu subbab pendek yang berjudul "Isi Waktu Luang Dengan Berbuat!". Berikut petikan paragrafnya ;
" Bila pada suatu hari anda mendapatkan diri anda menganggur tanpa kegiatan, bersiaplah untuk bersedih, gundah, dan cemas! Sebab dalam keadaan kosong itulah pikiran anda akan menerawang kemana-mana; mulai dari mengingat kegelapan masa lalu, menyesali kesialan masa kini, hingga mencemaskan kelamnya masa depan yang belum tentu anda alami..."
Paragraf di atas benar-benar pas dengan keadaan saya sampai saya curiga si bapak Aidh al Qarni terinspirasi menulis subbab ini setelah bertemu saya di jalan. Haha.
Sebenar-benarnya, saya tidak bisa disebut sedang menganggur tanpa kegiatan. Saya jelas sedang digelendoti skripsi yang mangkrak hampir empat bulan penuh. Tetapi rasa malas yang terlalu berat untuk saya tanggung ini, halah, selalu berhasil merayu saya untuk mencari distraksi dari skripsi. Yang saya lakukan tiap hari cuma mencari ransum snack di kulkas, membuat latte, duduk manis di meja belajar, membuka laptop, menancapkan modem, lalu....... browsing hal-hal yang menyimpang dari rencana menggarap skripsi. Meminjam istilah teman kampus saya, Alvin Zakky, yang membedakan mahasiswa tingkat akhir menjadi mahasiswa yang berniat mengerjakan skripsi dan berpura-pura mengerjakan skripsi, saya jelas seorang fanatik kubu kedua.
Kemalasan mulai menggerogoti ketika satu hari saya lewati tanpa menyentuh si kekasih yang terkhianati ini #skripsi. Satu hari menjadi dua lalu tiga lalu hitungannya melompat jadi mingguan. Sungguh ngeri ketika saya menoleh ke belakang, tapi saya terjebak dalam roller coaster kemalasan yang melaju dengan kecepatan penuh, yang operatornya ketiduran dan lupa menekan tombol stop setelah satu putaran. Oke, deskripsi saya barusan agak berlebihan, tapi intinya... ya begitulah.
Jadi mari, saya, dan anda sekalian mahasiswa tingkat akhir, mari kita kembali ke pelukan skripsi. Mari kita putuskan hubungan dengan kemalasan. Mari kita sambut masa depan cerah ceria!
"Berhenti dari kesibukan itu kelengahan, dan waktu kosong adalah pencuri yang culas.....", -La Tahzan-
Saturday, July 9, 2011
Saturday, June 4, 2011
cute crush (?)
Saya ingat suatu kali, pas lagi suka2 nya sama seorang teman lelaki, dia bercerita tentang perempuan yang disukainya. Obvious enough kalau saya bertepuk sebelah tangan lah ya. Haha. Hm, saya kenal juga sama si perempuan ini. Eh, waktu itu belum kenal, sih. Hanya tahu sama tahu. "The Girl" mirip sekali dengan pemeran utama drama-drama korea yang sejak dulu memang favorit saya. Imut, cantik, kreatif. Wah, sangat menyenangkan dijadikan teman pokoknya. Tapi berhubung waktu itu saya lagi gandrung pada lelaki yang gandrung pada the girl, saya harus ambil posisi sebagai rival dong, ya *yang kalau dipikir2 lagi, ini sangat nggak penting banget gitu lohh*
Sebagai rival yang baik dan benar *heheh*, saya sering curi-curi pandang kalau melihat the girl di suatu tempat. Saya lihat cara duduknya, berjalan, berbicara, tertawa, memesan makanan di kantin.... wah, saya jadi terdengar semacam maniak sesama jenis. Tapi.. well, that's ridiculously the fact. Bagian stalkingnya, bukan maniaknya. Hehe. Tujuannya sih, tentu, untuk mengetahui kelebihan the girl. Siapa tahu ada yang bisa saya aplikasikan pada diri sendiri. Siapa tahu juga, si teman lelaki jadi berubah haluan dan naksir saya? *alay*
Semakin dilihat, the girl ini semakin kiyut. Gerak-geriknya semakin adorable, sangat tidak sehat untuk atmosfer rivalitas kami. Sampai suatu hari, saya melihat teman lelaki yang saya sukai itu berdua-duaan dengan the girl. Aaaahhhhh, saya tidak sukaaaa. Jangan dekati idola sayaaaaa................. Adegan hancurnya hati saya waktu itu adalah sesuatu yang wajar.
Kalau kecemburuan saya tertuju pada the girl.
Tapi tidak. Saya cemburu pada the.....boy.
Karena sekarang (sekarangnya saat itu), saya menyukai the girl.
Haha. -_-"
Lalu setelah sekian lama saya tidak bertemu the girl, hari ini accidentally saya nemu dan membaca blog-nya. Wah, dia masih imut >.<
Ngeri.
Ah, saya memang selalu silau melihat yang imut-imut.
Itu masih dalam batas normal kan, ya? Hahah *nervous*
image source:bright-gift.net
Sebagai rival yang baik dan benar *heheh*, saya sering curi-curi pandang kalau melihat the girl di suatu tempat. Saya lihat cara duduknya, berjalan, berbicara, tertawa, memesan makanan di kantin.... wah, saya jadi terdengar semacam maniak sesama jenis. Tapi.. well, that's ridiculously the fact. Bagian stalkingnya, bukan maniaknya. Hehe. Tujuannya sih, tentu, untuk mengetahui kelebihan the girl. Siapa tahu ada yang bisa saya aplikasikan pada diri sendiri. Siapa tahu juga, si teman lelaki jadi berubah haluan dan naksir saya? *alay*
Semakin dilihat, the girl ini semakin kiyut. Gerak-geriknya semakin adorable, sangat tidak sehat untuk atmosfer rivalitas kami. Sampai suatu hari, saya melihat teman lelaki yang saya sukai itu berdua-duaan dengan the girl. Aaaahhhhh, saya tidak sukaaaa. Jangan dekati idola sayaaaaa................. Adegan hancurnya hati saya waktu itu adalah sesuatu yang wajar.
Kalau kecemburuan saya tertuju pada the girl.
Tapi tidak. Saya cemburu pada the.....boy.
Karena sekarang (sekarangnya saat itu), saya menyukai the girl.
Haha. -_-"
Lalu setelah sekian lama saya tidak bertemu the girl, hari ini accidentally saya nemu dan membaca blog-nya. Wah, dia masih imut >.<
Ngeri.
Ah, saya memang selalu silau melihat yang imut-imut.
Itu masih dalam batas normal kan, ya? Hahah *nervous*
image source:bright-gift.net
Tuesday, May 3, 2011
Ini tentang Lucu. Eh, 'Lucu'.
Saat berkendara pulang dari kampus sore tadi, saya tiba-tiba teringat komentar seorang teman tentang kebiasaan saya yang dianggapnya tidak wajar. Kebiasaan berkata 'lucu'. Maksudnya, saya sering menyebut apa-apa yang saya lihat sebagai lucu. Makanan enak itu 'lucu'. Sepatu kesayangan? lucu. Adik kelas ganteng yang menyapa saya di parkiran kampus juga 'lucu'.
Sebenarnya, saya bukan satu-satunya pemakai istilah lucu ini. Beberapa teman, semuanya perempuan, dan hei, semuanya jomblo (perlu ada penelitian lebih lanjut tentang fakta ini, tapi itu lain cerita), juga menggunakan 'lucu' dalam dialog sehari-hari. Apalagi kalau sesama perempuan jomblo (hehe) ini sedang ngumpul, ngopi-ngopi cantik, hampir ratusan (oke, tidak separah itu sih) kata lucu digunakan, dengan definisi masing-masing.
Ketika ada yang berkomentar sinis, biasanya teman lelaki, tentang penggunaan kata yang dianggap menyimpang ini, banyak teman perempuan saya yang hanya tersenyum malu-malu, sedikit sekali yang angkat bicara. Dari sedikit yang mencoba mengutarakan pendapat itupun biasanya hanya nyeletuk "ah nggak pa-pa.kan emang lucu". hueh, it doesn't help. Plus, membuat kaum hawa jadi terlihat neurotik. hehe
Saya pribadi, tidak menganggap 'hal itu' salah. sungguh, saya bisa menjelaskan kronologinya. Sangat sederhana dan sangat masuk akal.
Jadi mari kita mulai dari mengamati hal-hal yang disebut lucu dengan penggunaan istilah lucu yang diperluas. Katakanlah, seperti contoh saya di atas, makanan enak, sepatu kesayangan, dan brondong ganteng. Ketiganya adalah hal yang menyenangkan. Garis bawahi; menyenangkan.
Sekarang ingat, 'menyenangkan' dalam bahasa inggris disebut fun. Kemudian, perhatikan sebuah kata sifat dalam bahasa inggris. Funny. Merasakan sesuatu yang familiar? Ya! akar kata funny adalah fun.
Maka sebenarnya, funny bermakna menyenangkan.
Lalu, buka kamus bahasa inggris anda atau jalankan program google translate. Masukkan funny, terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Sudah keluar hasilnya?
AHA. LUCU bukan?
Jadi, kita bisa menarik kesimpulan, penggunaan 'lucu' untuk menyebutkan hal-hal yang menyenangkan sama sekali tidak menyimpang. Hal ini wajar dan dibenarkan oleh grammar.
Masuk akal? :D
hmm, mungkin tidak juga bagi anda. Tapi bagi saya (pribadi), ini make sense pol. dan tolong jangan tertawa, atau berpikir terlalu serius. Ini adalah latihan saya, persiapan untuk menjadi pengasuh kolom bahasa! Majalah Tempo suatu hari nanti.
p.s: Substansi tulisan ini mungkin benar-benar ngawur dan manfaatnya pun nol besar. Tapi.....lucu kan? >_<
Sebenarnya, saya bukan satu-satunya pemakai istilah lucu ini. Beberapa teman, semuanya perempuan, dan hei, semuanya jomblo (perlu ada penelitian lebih lanjut tentang fakta ini, tapi itu lain cerita), juga menggunakan 'lucu' dalam dialog sehari-hari. Apalagi kalau sesama perempuan jomblo (hehe) ini sedang ngumpul, ngopi-ngopi cantik, hampir ratusan (oke, tidak separah itu sih) kata lucu digunakan, dengan definisi masing-masing.
Ketika ada yang berkomentar sinis, biasanya teman lelaki, tentang penggunaan kata yang dianggap menyimpang ini, banyak teman perempuan saya yang hanya tersenyum malu-malu, sedikit sekali yang angkat bicara. Dari sedikit yang mencoba mengutarakan pendapat itupun biasanya hanya nyeletuk "ah nggak pa-pa.kan emang lucu". hueh, it doesn't help. Plus, membuat kaum hawa jadi terlihat neurotik. hehe
Saya pribadi, tidak menganggap 'hal itu' salah. sungguh, saya bisa menjelaskan kronologinya. Sangat sederhana dan sangat masuk akal.
Jadi mari kita mulai dari mengamati hal-hal yang disebut lucu dengan penggunaan istilah lucu yang diperluas. Katakanlah, seperti contoh saya di atas, makanan enak, sepatu kesayangan, dan brondong ganteng. Ketiganya adalah hal yang menyenangkan. Garis bawahi; menyenangkan.
Sekarang ingat, 'menyenangkan' dalam bahasa inggris disebut fun. Kemudian, perhatikan sebuah kata sifat dalam bahasa inggris. Funny. Merasakan sesuatu yang familiar? Ya! akar kata funny adalah fun.
Maka sebenarnya, funny bermakna menyenangkan.
Lalu, buka kamus bahasa inggris anda atau jalankan program google translate. Masukkan funny, terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Sudah keluar hasilnya?
AHA. LUCU bukan?
Jadi, kita bisa menarik kesimpulan, penggunaan 'lucu' untuk menyebutkan hal-hal yang menyenangkan sama sekali tidak menyimpang. Hal ini wajar dan dibenarkan oleh grammar.
Masuk akal? :D
hmm, mungkin tidak juga bagi anda. Tapi bagi saya (pribadi), ini make sense pol. dan tolong jangan tertawa, atau berpikir terlalu serius. Ini adalah latihan saya, persiapan untuk menjadi pengasuh kolom bahasa! Majalah Tempo suatu hari nanti.
p.s: Substansi tulisan ini mungkin benar-benar ngawur dan manfaatnya pun nol besar. Tapi.....lucu kan? >_<

