Pages

Sunday, March 5, 2023

A Plea to God

 Ya Allah yang Maha Pengampun,

ampuni hamba yang belum bisa memaksa diri untuk birrul walidain. Setiap kali memaksakan diri, dada terasa sesak, sulit bernafas, dan sangat mual. Hamba belum sanggup ya Allah. Maaf ya Allah ☹️ 

Wednesday, October 5, 2022

Self-doubts


Sejak kecil rasanya saya pribadi yang cukup percaya diri. Mampu mengambil keputusan dalam waktu terbatas dan jarang menyesali keputusan yang sudah dibuat. Dulu self-doubt tidak sering muncul di algoritma pemikiran saya. Tapi semua berubah ketika negara api menyerang. Alias adulting 🙃

Setelah menikah dan menjadi ibu, pilihan yang saya buat tidak hanya berdampak pada diri sendiri tapi juga dua manusia kecil yang Allah amanahkan pada saya dan Uda cwamie. Proses memilih dan mengambil keputusan jadi terasa berat, lambat, dan berbahaya. Salah langkah bisa jadi disastrous. Belum lagi kenyataan bahwa tidak ada pilihan ‘terbaik’ yang paling benar untuk semua. Tiap keluarga punya pilihan dan pertimbangan masing-masing. Pilihan yang paling tepat untuk keluarga A ternyata tidak cocok untuk keluarga B. Sebenarnya perbedaan macam ini biasa saja  dan harmless. Masalahnya masing-masing pihak punya tendensi untuk membuat pilihan pihak lain jadi invalid dan terasa salah. Mungkin root-nya adalah insecurities dan self-doubts sehingga perlu meyakinkan diri bahwa pilihannya terbaik dengan cara degrading pilihan orang lain. That is me. Alhamdulillah self-talk jelek macam itu cuma ada dalam kepala dan mungkin sesekali saya curhatkan ke Uda. Tapi banyak orang lain yg secara terang-terangan mempertanyakan (bukan sekedar karena ingin tahu), bahkan merendahkan pilihan orang lain.

Mulai dari pilihan melahirkan (normal-sectio), menyusui (ASI-sufor), ibu stay at home atau kembali bekerja, sekolah Islam atau non-relijius, kpr atau mengontrak, the lists just go and go on. Neverending. Semua dibahas. Dicari lawannya. Dicari argumen paling valid dan solid untuk merasa menang, tak peduli saudara atau teman yang diserang merasa sakit hati. Aku. Aku. Aku. Si paling pintar. Si paling well-prepared. Si paling cerdas mengambil keputusan.

Kadang ketika burnout, omongan-omongan buruk orang yang punya pilihan berbeda ini merembes masuk juga ke dalam kapal pikiran saya. Rasanya sangat menyebalkan. Kadang memuakkan. Harus banyak-banyak istighfar, berdzikir, dan mengingat bahwa dunia ini bukan end goal seorang muslim. Bahwa ketidaknyamanan di dunia bukan menunjukkan derajat di akhirat. Bahwa tidak ada yang salah dengan mematuhi syariat walaupun makin hari makin terasa tidak politically correct.

Semoga Allah kuatkan menjadi istri dan ibu. Semoga perlahan bisa menghilangkan self-doubts dan self-talks yang tidak memberdayakan. And may i stay grateful for everything that Allah bestow upon me.


Saturday, August 15, 2020

How I Met le Hubby (2)

Saya udah cerita sampai mana ya di part sebelumnya? wkwk bentar scroll back dulu

Yak oke udah inget. Jadi akhir April 2016 setelah om dan tante berusaha jadi matchmaker, saya rajin ngadu ke Allah perihal jodoh. Sebelumnya udah sering ngebatin sih. Pas menjelang atau setelah kajian di masjid Al Azhar atau masjid Nurul Iman Blok M, biasanya. Kalau melihat pasangan yang datang kajian bersama suka memohon jodoh yg saling membantu urusan dunia dan akhirat ke Allah. Tapi paska forum Sentul, saya berdoa formally. Di waktu-waktu mustajab dan bahkan jadi rajin sholat dhuha. Saya benar-benar takut dilamar keponakan teman om yang saya kurang sreg di pertemuan pertama itu. Eak.

Apakah doa-doa desperate saya ngeberisikin penduduk langit apa gimana, ya. Qadarullah ngga lama setelah itu ada teman satu geng (iya saya masih suka geng-gengan bahkan pas udah kerja 😂) yang bertanya apa saya 'available'. Ada teman kuliahnya yang ingin berkenalan setelah melihat foto saya yang dipost teman di Instagramnya. What. Hal pertama yang saya lakukan adalah mengecek postingan foto itu dan dalam hati mengomentari diri sendiri "hmm ya bagus sih emang angle-nya. Keliatan imut emang gue, ya". Wkwk. Jomblo harus narsis biar pede~

Setelah puluhan tahun benci kenal-kenalan random dan bertukar nomor hape, kali itu saya bertukar nomor hape dengan ridho dan penuh harap. Apakah lelaki ini yang akan menyelamatkan saya dari perjodohan yang (kayaknya sih) ngga (begitu) saya inginkan? Pertukaran nomor hape ini saya lakukan dengan teman saya V di lobby kantor. Saat itu sedang berlangsung kegiatan donor darah untuk merayakan HUT kantor. Teman segeng kami yang lain, D, bertugas mencatat nama-nama pendonor dan mengarahkan mereka ke ruang dimana petugas PMI menunggu. D yang juga tahu dan iba pada kejombloan saya nyeletuk;

"mbak, ini ada cowo lantai atas yang jomblo nih bisa jadi gebetan. Ntar gue tunjukin yang mana orangnya".

Saya sekilas melihat papan nama yang dipegang D dan membaca nama calon gebetan. Namanya lucu juga. Tapi...

"ini setahun lebih muda dari gue, nih. Males ah, brondong", ujar saya sambil berusaha ngga deg-degan membalas chat pertama dengan lelaki yang dikenalkan V.

Beberapa pekan mengobrol ringan dengan lelaki teman V, saya ngga sreg juga. Tapi masih agak mendingan dibanding lelaki yang dijodohkan. Suatu hari di bulan Ramadhan, lelaki teman V mengajak saya bertemu di Metropole. Ngabuburit (ah elah) bertatap muka setelah selama ini hanya ngobrol via whatsapp. Saya bener-bener deg-degan dan ngga nyaman sampai sakit perut saat bersiap-siap sepulang dari kantor. Karena terlalu tegang, sepertinya saya ngga fokus membalas chatnya, yang berakhir dengan kesalahpahaman. Saya udah duduk di lobby bioskop sambil mules, eh, si lelaki mengira kami ngga jadi ketemuan sehingga dia pulang ke rumah orangtuanya di Bekasi. Dan butuh waktu lumayan lama untuk kembali ke Jakarta, bertemu saya di Metropole. Entah kenapa saya malah merasa lega dan merasa ini clue kalau he was not the one. Aslinya sih saya nyari-nyari pembenaran untuk ngecut komunikasi karena saya (as always) merasa kurang sreg.

Keesokannya D bercerita kalau sore sebelumnya dia ikut bukber di lantai atas, kantor pacarnya yang beda perusahaan tapi satu gedung dengan kantor kami.

"mbak, semalem ada yang minta kontak lo tuh. Anak kantor atas tapi udah resign. Namanya R", kata D.

Rasa-rasanya pernah mendengar nama itu tapi ngga ingat dimana. Saya cuma tersenyum (sok) penuh misteri dan berjalan (sok) elegan ke arah kubikel saya untuk bekerja. D berteriak-teriak bertanya kapan saya mau pensiun jadi jomblo. Sesampainya di kubikel, hal pertama yang saya lakukan adalah stalking sosmed R. Ih, anak gaul Jakarta. Saya amati taggingnya di Instagram. Ih, fotonya mepet-mepet cewe. Masih mending si lelaki yang gagal kopdar di Metropole kayaknya. Saya pun menelepon meja D; 

"awas jangan kasih nomer hape gue ya", ujar saya

"dih kapan mau kewong lu mbak, ngasih nomer aja kagak mau", timpal D sambil menutup teleponnya.

Hari-hari berikutnya saya jalani dengan agak waswas menunggu om menghubungi saya. Saya berdoa om sibuk banget sampai lupa pada urusan matchmaking. Saya juga malas-malasan membalas chat lelaki gagal kopdar karena kami kurang nyambung. Kalu kata Marie Kondo, obrolan kami ngga sparks joy. Tiba-tiba ada notifikasi DM Instagram. Dari akun non follower saya. Isinya; 

"Siang kak, boleh minta contact, ngga?"

Lah. Si R. 



-bersambung ke part 3

Saturday, July 18, 2020

Perempuan dari Masa Depan

Ardhan seorang trolley boy teladan.
Sudah tiga bulan ia bekerja di supermarket mall besar itu dan atasannya puas dengan kinerjanya. Ia datang paling pagi dan tak pernah menolak lembur. Belum pernah sakit atau minta cuti. Di hari-hari sibuk, ia juga bisa jadi kasir pengganti. Ingatannya kuat dan tangannya cekatan. Ardhan bisa mengetik angka-angka untuk struk jauh lebih cepat dari kasir senior. Di akhir hari saat penghitungan isi laci kasir, jumlahnya tak pernah meleset. Bang Moka, supervisornya, mengajukan promosi Ardhan selepas masa kontrak tiga bulannya. Ia akan diangkat menjadi pegawai tetap bagian kasir. Selesailah sudah karirnya sebagai trolley boy.

Setiap malam sepulang dari supermarket, Ardhan menaiki vespa tuanya yang sering mogok itu untuk kembali ke kontrakan sempit tempat ia tinggal dengan saudara kembarnya, Hardin. Mereka bukan kembar identik tapi masih ada kemiripan yang terlihat. Dua pemuda yang baru dua tahun lulus SMA itu sering dikira kakak beradik. Hardin kakak yang lebih tampan tapi Ardhan adik yang lebih luwes bergaul. Kehidupan mereka sulit sejak kecil. Berhutang nasi ke warteg dan menunggak spp sekolah jadi kenangan yang lekat di memori mereka. Konon Mamah dan Papah dulu anak-anak orang kaya yang kawin lari sehingga tak lagi diterima keluarga besar mereka. Mendengar cerita itu, yang ada di pikiran Ardhan hanya pertanyaan kapan kakek kaya-raya yang tidak pernah ia kenal akan mengetuk pintu kontrakan petak bobrok mereka dan mengentaskan mereka dari kemiskinan.

Sampai Mamah meninggal saat mereka duduk di kelas 3 SMA, kakek imajiner itu belum muncul. Papah sudah lari jauh sebelum itu. Mereka tak ingat tepatnya, tapi sepertinya saat mereka SMP. Ardhan dan Hardin ribut berebut tempe terakhir di meja makan. Papah berdiri lalu meninju pipi kanan Ardhan dan pipi kiri Hardin lalu pergi ke luar rumah membawa tas ransel kecil berisi kaos dan sarungnya dan tak pernah kembali. Mamah bilang Papah pulang ke rumah orang tuanya di luar kota.

Bulan-bulan terakhir sebelum Mamah meninggal, adalah bulan yang berat bagi mereka bertiga. Ardhan dan Hardin bersekolah sambil melakukan pekerjaan serabutan apa saja untuk makan dan membiayai pengobatan stroke Mamah. Sering mereka berdua hanya minum air putih seharian dan membeli permen kopi saat jadwal Mamah terapi. Mereka jadi sering bolos sekolah dan bagi yang memperhatikan dengan jeli, akan tampak makin kurus dari hari ke hari.

Salah satu orang yang memperhatikan perubahan fisik Ardhan dan Hardin itu adalah Pak Guru Kasmadi, guru matematika di sekolah mereka. Pak Kasmadi punya tetangga yang juga bernama Kasmadi di lingkungan RT yang sama di kompleks tempatnya tinggal. Jadi untuk membedakan, panggilan mereka adalah Pak Guru Kasmadi dan Pak Polisi Kasmadi. Pak Guru Kasmadi memperhatikan keadaan dua muridnya yang paling pintar di angkatan mereka di sekolah itu, si kembar Ardhan-Hardin. Di sekolah swasta berakreditasi buruk dengan murid anak-anak kelas bawah yang tidak terlalu ceedas, si kembar bersinar bagai berlian dalam lumpur. Mereka tampan dan pintar. Tapi mereka juga miskin. Di tahun terakhir sekolah, mereka tampak selalu kelaparan. Pak Guru Kasmadi suka menyuruh mereka melakukan tugas-tugas sepele seperti membongkar kardus LKS baru atau menginventarisir alat olahraga di sekolah hanya untuk mencari alasan memberi mereka sedikit uang. Uang dari Pak Guru Kasmadi membuat Ardhan dan Hardin bisa sesekali makan nasi telur rebus di rumah makan Padang dan membayar sebagian utang nasi kuah sayur tahu di warteg langganan mereka.

Setelah Mamah meninggal, kondisi keuangan Ardhan membaik. Ia menabung sebagian besar penghasilannya sebagai kasir. Upah Hardin sebagai asisten koki rumah makan sebenarnya lebih besar dari Ardhan, tapi pacar-pacarnya lebih high maintenance. Jadi kadang kontrakan mereka pun Ardhan yang membayar bagian lebih banyak karena Hardin kehabisan uang di tengah bulan, setelah mentraktir makan pacarnya di restoran mahal.

Ardhan bukannya tak punya pacar. Ia punya kekasih yang manis dan baik hati, Juni, pegawai restoran pizza di seberang supermarket tempatnya bekerja. Juni tak pernah minta ditraktir di tempat mahal atau pergi ke bioskop. Ia cukup puas duduk di pinggir jalan dan makan bubur ayam berdua dengan Ardhan. Ia juga sering memberi makanan untuk Ardhan yang menurutnya terlalu ekstrim dalam berhemat sampai tak pernah sarapan dan makan siang. Ardhan merasa hari-harinya berlangsung dengan cukup nyaman dan tenang. Mungkin tiga atau empat tahun lagi tabungannya cukup untuk membangun hidup bersama Juni. Nasihat Pak Guru Kasmadi agar ia melanjutkan kuliah disimpannya dalam kotak terkunci dalam kepalanya. Ada berbagi mimpi di kotak itu yang sudah ia relakan untuk tak terwujud. Bisa mendapat penghasilan yang cukup untuk makan dan menabung sudah lebih dari yang bisa ia bayangkan selama ini. Hidupnya terlalu keras sehingga pencapaian seminim apapun sudah cukup.

Tadinya itu yang ia pikirkan.

Sampai di suatu sore yang cerah dan berangin dan biasa saja, terjadi hal luar biasa. Hal aneh yang tak pernah ia bayangkan mampu membuka kunci kotak spesial dalam kepalanya.

Sore itu Ardhan menuntun vespanya yang mogok di pinggir jalan yang cukup sepi. Ia sudah terbiasa dengan mogoknya Si Tua jadi hal itu terasa ringan saja. Ia berjalan sambil bersenandung dan mengingat-ingat di mana letak bengkel vespa yang sering ia lewati. Tiba-tiba ia melihat seorang lelaki pendek berjaket jins lari menuju ke arahnya. Tak jauh di belakang lelaki itu, seorang ibu paruh baya mengejar sambil berteriak;

"Jambretttt, jambreeettt. Mas, tolong tangkap itu jambret tas sayaaaa", teriak si ibu saat melihat Ardhan. Ardhan segera menaruh vespanya dan menghadang si jambret yang semakin dekat dan berlari ke arahnya. Ardhan menabrakkan diri sehingga ia dan si jambret terjatuh berguling-guling ke lantai paving sebuah ruko yang sepi. Ia sempat menarik tas yang dijambret dari tangan lelaki berjaket jins itu namun tiba-tiba ia merasakan panas dan perih di leher kanannya. Ia tangkupkan tangannya ke leher dan sesuatu yang basah memenuhi telapaknya. Darah segar. Si penjambret ternyata menusuknya lalu berdiri sambil masih membawa pisau kecil berlumuran darah Ardhan. Ia bergegas lari saat terdengar suara massa di seberang jalan. Si Ibu yang dijambret mengambil tasnya dari tangan Ardhan lalu hilang di kerumunan massa yang masih terus mengejar penjambret.

Ardhan sendirian di depan ruko kosong itu. Duduk bersandar pada sebuah tiang sambil terus menekan lehernya. Orang-orang yang tadi mengejar si penjambret tak menyadari keadaannya, ia juga mulai lemas dan merasa tak punya cukup tenaga untuk berteriak minta tolong. Ia mengeluarkan ponsel dari sakunya dan mengumpat saat melihat layarnya mati karena kehabisan baterai. Ia baru akan memikirkan cara menyelamatkan diri yang tak butuh banyak tenaga ketika melihat sepasang sandal rumah di dekatnya. Ia mendongak dan melihat seorang perempuan yang lebih tua darinya, mungkin berusia tiga puluh tahunan memakai gaun pengantin sederhana. Perempuan itu menangis hingga airmata dan ingus mengotori mukanya yang cukup cantik.

"Sayangkuuu...", ia menangis memanggil Ardhan lalu berlari ke pinggir jalan raya dan berteriak meminta pertolongan.

Satu jam berikutnya Ardhan akan mendengar cerita-cerita aneh dari Si Gaun Pengantin. Cerita yang sulit dipercaya tapi cukup menghibur dan membuatnya terjaga selama perjalanan ke rumah sakit. Perawat yang menggotongnya ke ambulans dan membebat lehernya dengan gumpalan tebal kasa meminta Si Gaun Pengantin mengajak Ardhan berbicara agar ia tak tidur. Kalau sampai Ardhan tertidur, keadaannya akan berbahaya. Ardhan yang mendengar percakapan mereka berusaha fokus pada cerita Si Gaun Pengantin dan mati-matian menahan kantuknya. Ia belum ingin mati.

"Sayang, ini Aruna", kata Si Gaun Pengantin. Ia tampak akan menyentuh tangan Ardhan yang bebas dari jarum infus tapi urung.
"Ini tahun pas kamu kerja di supermarket, ya?", tanya Aruna sambil mengamati seragam kerja Ardhan. Airmatanya masih berlinang. Ardhan berpikir mungkin perempuan bergaun pengantin ini pasien gila yang lepas dari pengawasan. Tiba-tiba ia takut pasien gila ini mengamuk dan membuat lukanya makin parah. Perawat yang menemani mereka terlalu jauh duduk di ujung dekat pintu sambil menonton sesuatu di ponselnya. Ardhan berusaha waspada tapi badannya terasa lemas.

"Sekarang kita belum saling kenal. Tapi nanti kita akan kenal dan merencanakan pernikahan", Aruna terisak.

"Aku ngga pernah mau ikut campur cerita di masa lalu tapi tadi aku ngga bisa lihat kamu berdarah... gitu...", Aruna sesenggukan. Ardhan hanya memandangnya dengan iba. Pasien gila di hadapannya ini adalah penyelamat nyawanya.

"Ada kemungkinan jalan hidup kita ke depan berubah karena kejadian ini. Aku takut... takut kita ngga ketemu di masa depan...", airmata Aruna berlinang, ia mengusap ingusnya dengan bagian bawah gaun pengantinnya. Aruna lalu terdiam memandangi cincin melingkar di tangan kirinya. Cincin yang lalu ia pegang erat-erat sampai jari tangan kanannya memutih. Keheningan lima menit itu terusik ketika si perawat mendongak dari ponselnya dan berbicara pada Aruna.

"ngomong lagi, Mbak. Itu Masnya udah mulai ngantuk. Bahaya"

Aruna kembali memandangi wajah Ardhan dengan mata yang bengkak karena menangis. Perlahan-lahan ia tersenyum. Senyum yang dipaksakan. Airmatanya jatuh lagi.

"Yah, misal di masa depan kita ngga ketemu, semoga kamu tetep punya sedikit ingatan tentang kita, ya. Kalau memoriku pasti lenyap sejam setelah kembali ke waktu presentku. Walaupun pasti kucatat kejadian ini, tapi rasanya pasti beda. Perasaannya pasti beda...", Aruna menekan dadanya dengan kepalan tangan. Ardhan berpikir wanita di hadapannya ini pasti bisa jadi aktris film yang baik. Aktingnya sangat meyakinkan. Ia tampak sangat mencintai Ardhan. Ardhan bahkan tak pernah melihat ekspresi seperti ini di muka Juni. Padahal Juni pernah menemaninya operasi setelah kecelakaan yang cukup parah setahun lalu. Ia koma dua hari dan saat siuman, orang pertama yang dilihatnya adalah Juni. Tapi Juni tidak menangis, ia berceloteh gembira tentang toko es krim baru di depan mall tempat mereka bekerja. Juni ingin mentraktir Ardhan secepatnya ia keluar dari rumah sakit.

"Aku mau cerita tentang kita, ya. Agak aneh mungkin tapi inget-inget aja. Dan kalau bisa tolong cari aku di masa depan, ya", Aruna tersenyum tipis. Ardhan refleks ikut tersenyum. Lagipula ia suka juga dengan fantasi time-travelling.

"Aku tunanganmu di masa depan. Sepuluh tahun dari sekarang. Besok kita menikah, kalau saja aku bisa menahan diri untuk ngga nolongin kamu tadi", ada nada menyesal dalam suara Aruna tapi lebih banyak kesan pasrah.

"Terakhir kali aku nolongin orang dan ngubah jalan takdir, pas aku balik ke present time, Papa ternyata meninggal. Aku udah cerita kan? Eh, sekarang belum ya", ujar Aruna sambil menerawang. Mengamati tetes cairan di botol infus yang terpasang ke lengan Ardhan.

"Ini tahun berapa, sih? Kamu masih pacaran sama teman kerja satu mall, ya? Juni kan, namanya?", tanya Aruna. Ardhan menjengit kaget. Pasien gila bergaun pengantin ini kenapa bisa tahu nama Juni? Apa sekedar kebetulan? Atau dia stalker? Kemunculannya yang tiba-tiba di depan ruko kosong di jalanan yang lengang terasa sangat mencurigakan. Apa Aruna ini hantu? Tapi perawat yang masih saja menonton sesuatu dengam serius di ponselnya itu juga bisa melihat dan berbicara dengan Aruna. Kaki Aruna juga tidak melayang. Ardhan menggeleng kecil mencoba menjernihkan kembali pikirannya. Ia lemas dan ngantuk parah, mungkin efek pendarahan leher membuatnya berhalusinasi. Ia memutuskan rileks dan menikmati saja kisah Aruna yang absurd. Tidak ada ruginya, itu membantunya terus terjaga sampai di rumah sakit nanti. Jalanan di jam pulang kantor macet parah. Sudah lima belas menit mereka stuck di tempat yang sama. Sopir ambulans berteriak dari kursinya di depan,

"kayaknya lebih dari sejam nih kita baru nyampe IGD"
"ashiap", sahut si perawat acuh tak acuh.

"Pak, teman saya gimana kalau kita kelamaan di jalan?", Aruna terdengar sedikit histeris. Ardhan ikut deg-degan memikirkan lehernya yang masih saja terasa basah dan panas walaupun sudah tidak terlalu perih.
"kalau melek terus aman, Mbak. Coba ngobrol lagi. Jangan sama saya ngobrolnya", si perawat tersenyum lelah. Mungkin banyak pasien yang telah ia evakuasi sebelum Ardhan hari ini.

Aruna menatap lurus-lurus mata Ardhan,
"kita ketemu di Sorbonne"

Ardhan sedikit kecewa. Cerita Aruna tidak sefantastis yang ia kira. Ia mengharapkan kisah epik yang jauh dari realitasnya. Mungkin mereka bertemu di luar negeri, sepuluh tahun dari sekarang ia berharap sudah bertemu dengan kakek kaya-rayanya dan berubah status sosial. Namun sepertinya dalam khayalan-pun ia hanya menjalani kehidupan normalnya. Aruna bilang mereka bertemu dimana di masa depan? Subang?




Saturday, May 23, 2020

How I Met le Hubby (1)

Blog post kali ini tentang bagaimana saya bertemu dengan lelaki yang kini menjadi cuamicuu~. I am a hopeless romantic and i adore love story. Jadi ya seneng aja mengingat-ingat kisah perkenalan kami yang padat, singkat, dan fokus ke pelaminan tapi ga kalah unyunya dengan drama Korea. Wkwk. Cerita ini saya tuliskan sebagai pengingat bahwa we were two people in sweet love story, yang kadang akhir-akhir ini terlupa karena practicality kehidupan rumah tangga. Dan semoga manisnya dapat meluluhkan hati saya ketika ngambek random ke si Uda 😂

So i was always bertanya-tanya bagaimana rasanya saling mencintai dengan seseorang. Yah gimana ya saya kan ngga ada pengalaman pacar-pacaran. Sebenarnya bukan karena alim banget sih (lol) tapi karena saya kekanak-kanakan (?). Saya sering jatuh cinta pada karakter fiksi di novel atau komik yang saya baca, tapi pada lelaki di dunia nyata, saya gampang banget ilfil. Banyak kali saya ngefans pada beberapa lelaki sepanjang masa single saya mulai remaja, selalu berakhir sebagai ngefans satu arah saja atau saya lari ketika si obyek fangirling meng-approach saya. Kalau si lelaki yang saya sukai ini ternyata balik menyukai saya, saya akan langsung dapat 1001 kelemahan manusiawinya yang akan membuat saya ilfil dan kabooorrrr~ 😂😴

Keabsurdan kehidupan percintaan saya terus berlangsung dari saat baligh (wkwk) sampai di suatu sore yang biasa-biasa saja di bulan April 2016. Saat itu usia saya 27 tahun, sudah bekerja, hobi travelling ala-ala, dan jadi obyek bully bapak-bapak kolega kantor yang jauh lebih tua dari saya. Di kantor saya pada saat itu memang ngga terlalu banyak staf berusia muda dan lajang. Hanya ada beberapa orang dan semuanya sudah punya pacar kecuali saya~

Teman-teman kantorlah yang saat itu gelisah melihat saya masih lalalili menjomblo ngga jelas. Sayanya sih lagi dalam keadaan zen karena agak rajin ikut kajian di Al Azhar dan Masjid Nurul Iman Blok M. Walopun yaaaa tiap pulang kajian yang after office hour itu saya suka membayangkan enaknya kalau yang membonceng saya pulang adalah my significant other alih-alih bapak gojek random 😂

Di hari ulang tahun saya yang ke-27, Oom dan tante yang juga waswas melihat kejombloan saya akhirnya mengenalkan saya pada seorang lelaki, keponakan teman satu komunitas mereka. Saya, Oom, tante, si lelaki, tantenya, dan anak si tante bertemu di sebuah restoran di Sentul. Kami berusaha mengatasi kecanggungan perjodohan dan ngobrol awkward tentang hobi dan pekerjaan. Hasil dari pertemuan itu adalah saya sakit perut dan minta melipir ke toilet rest area tol. Ternyata saya menstruasi dini sodara-sodaraaaa. Maju dua minggu dari jadwal, hal yang beberapa kali terjadi ketika saya under pressure. Perjodohan itu berat. Huhuhu.

Saya ngga merasa klik dengan si lelaki, tapi saya takut salah langkah jika langsung menolak perjodohan itu. Oom saya bilang agama dan akhlak si lelaki ini baik. Dan saya pernah sekilas membaca tentang anjuran untuk menerima pinangan pria yang baik agama dan akhlaknya. GR banget yaa padahal masnya juga belum meminang dan kami juga belum memutuskan untuk bertemu kembali.

Yang jelas sejak pertemuan itu saya jadi berasa desperate. State zen saya agak goyah. Saya benar-benar takut akan menikah dengan lelaki yang tidak menarik hati saya. Ntar bisa bahagia ngga kalo saya aslinya ngga suka. Jangan-jangan malah merasa menderita ketika harus melayani karena saya ngga suka. Pokoknya mikirnya suka ngga suka aja khas hopeless romantic. Saya ngga pragmatis sama sekali kalo masalah percintaan. Alhasil saya nangis-nangis terus tiap malam, mengadu pada Allah. Memohon agar saya dipertemukan dengan jodoh sebelum si mas ponakan temen Oom ini follow up, atau ya tolonglah ya Allah itu hati si masnya dialihkan aja biar ngga suka sama saya. Sungguh doa yang kepedean 😂

Nah, apakah mas-mas perjodohan ini yang akan menjadi ayah dari anak-anak saya yang gemas-gemas di masa mendatang? Bersambung ke part 2.........

Wkwkwk

Friday, January 3, 2020

Intro to Writing for Healing

Beberapa tahun terakhir pasca meninggalnya adik, saya belajar untuk lebih sabar dan (berusaha) jadi pribadi yang kalem. Karena dalam sebuah hadits disebutkan tidak ada yang menyertai kelembutan kecuali kebaikan. Redaksi haditsnya saya lupa namun intinya seperti itu. Saya yang sedari remaja bermulut tajam ingin berubah. Saya sudah cukup banyak dosa tanpa perlu menambahnya lagi dengan dosa menyakiti hati orang lain karena tak bisa menaklukkan lidah sendiri. Saya merasakan efek positif dari usaha saya itu. Rasanya hidup saya lebih ringan dan tenang. Tanpa saya sadari sebelumnya, setiap berkata sarkas, terselip arogansi. Dan arogansi itu mengotori hati.

Namun efek 'negatif' dari usaha saya menahan diri adalah ada emosi yang tertahan. Yang memenuhi bendungan emosi dalam kepala saya dan mengancam jebol sewaktu-waktu. Kepala saya terasa berat dan saya jadi lashing out pada orang-orang terdekat karena hal sepele. Alhamdulillah hari ini saya menemukan tulisan seorang terapis healing tentang #writingforhealing. Saya merasa inilah yang saat ini saya butuhkan selain menumpahkan semuanya di atas sajadah dan juga curhatkan ke suami. Saya perlu menuliskan semuanya dan membacanya lagi berulang-ulang. Menyelami rasa tidak nyaman saya bukan berpura-pura rasa tidak nyaman itu tidak ada.

So here we go. My first babbling. Semoga bila dalam tulisan saya menceritakan tentang keburukan orang lain, itu tidak dicatat sebagai membuka aib sesama muslim :( Saya asumsikan tidak ada yang membaca blog ini. Dan kalaupun ada, hanya kebetulan yang kans nya kecil. Sama seperti bila saya menulis manual di diary. Selalu ada kemungkinan diary itu terbaca orang lain. Karena itulah saya memilih platform ini untuk menumpahkan uneg-uneg saya instead of a diary. Telepon selular lebih mudah saya akses dan yah sama aja ga ada yang baca, kok. LoL.



Friday, June 21, 2019

Drama Lahiran Anak Pertama (1)

Judul di atas agak lebay sih ya. Tapi rasanya setiap orangtua, terutama ibu pasti merasa cerita lahirannya sangat berkesan. Dramatis banget sampai pengen cerita-cerita terus ke tiap orang yang ditemui dan gampang banget triggered buat ngomongin lahiran lagi, lahiran lagi padahal ngga ada yang nanya juga. Ini saya banget sih. Wkwk.

Jadi sebaiknya saya tulis aja sekalian di blog ya. Biasanya pemikiran yang udah tertuliskan jadi enak buat saya baca-baca lagi tiap triggered dan ngga bikin saya over ngoceh ke orang-orang sekitar. Here we go..

Setahun yang lalu akhirnya kehamilan pertama saya (sekarang lagi hamil kedua.lol) masuk minggu ke 39. Hari perkiraan lahir sekitar dua minggu kemudian dan pas itu saya udah cuti maternity leave. Di kantor udah ngga konsen kerja karena badan kayak sakit semua. Malam hari juga mulai susah tidur karena constantly pengen pipis dan tidur pake posisi apa aja rasanya ngga nyaman. Miring ke kanan, kiri, diganjal bantal hamil, dipijit suami tetep aja badan rasanya kayak remuk dari dalam. Alhasil tiap beberapa hari sekali saya nangis malam-malam. Cape dan kesel (astaghfirullah) karena waktu berasa super lambat ke tanggal HPL. Suami juga cuma bisa bilang "sabar nduk, ntar sakitnya hilang semua pas udah lahir bayinya". Yha. Untung kucayank. Untung juga si Uda sabar dan cekatan banget kalau ada keluhan pinggang sakit atau kaki kram. Pijat oksitosin dari suami memang terbaiqqqq.

Saat kunjungan ke obgyn di minggu sebelumnya, dokter mengingatkan kalau masuk week 39 harus waspada. Kontrol dan USG seminggu sekali, gerakan janin juga harus dihitung. Kalau ada penurunan jumlah gerakan yang signifikan harus gercep ke rumah sakit. Pas itu yang terpikir oleh saya cuma betapa pricey-nya kalau harus seminggu sekali kontrol dan tas lahiran yang saya siapkan untuk dibawa ke RS belum kelar juga saya isi. Dua hari liburan di rumah, saya udah mulai bosan. Mau beberes pun ngga punya tenaga. Jadilah kalau siang kegiatan saya cuma scroll instagram nontonin video-video persiapan melahirkan dari Bidan Kita dan Doula ngehits mba Jamilatus Sa'diyah. Saya pengen banget kayak ibu-ibu muda di video mereka yang bisa senyum (bahkan nari-nari) saat kontraksi dan melahirkan normal tanpa robekan perineum. Which was agak mimpi karena saya males banget senam hamil 😂

Walaupun males tapi ya pernah juga sih saya senam hamil di RS tempat saya kontrol. Baru dua kali kalau ngga salah. Setelah itu saya ambil kelas laktasi dan kelas persiapan melahirkan dulu, senam hamilnya dipending ngga tau kenapa. Eh ternyata mungkin itu maternity instinct ya. Seminggu setelah ambil kelas persiapan melahirkan, qadarullah saya langsung praktik. Wkwk. Kelas persiapan melahirkan ini ternyata membantu banget karena suami juga dilibatkan. Bidan pengajarnya bilang, pendamping melahirkan (doula) terbaik ya suami bukan tenaga medis.

Sabtu pagi, 26 Mei saya bolos kelas senam hamil karena tiba-tiba pengen tidur sampai siang. Padahal selama hamil saya suka pusing kalau ngga bangun pagi. Bangun tidur saya buka-buka lagi tas lahiran dan lemari baju, mikir apalagi yang perlu dimasukin. HPL masih pertengahan Juni jadi saya santai-santai aja. Uda juga ngegame Dota aja seperti biasa kalau weekend. Sabtu malam saya kumat kecentilan dan nempel-nempel sama Uda. Beliau sih amused tapi ya ngeri karena perut saya udah super besar. Tapi ya siapalah lelaki yang bisa menahan godaan wanita ya, malam itu terjadi juga hal-hal yang diinginkan. Saya dan Uda cekikikan ingat artikel yang kami baca tentang induksi alami. Jadi hubungan suami-istri saat menjelang persalinan itu bermanfaat banget karena bisa membantu kontraksi.

Tengah malam saya merasa agak mulas. Mulasnya mild banget sih jadi mikirnya itu cuma kontraksi palsu. Ngga seperti malam-malam trimester tiga sebelumnya, malam itu saya bisa tidur nyenyak sampai pagi. Minggu pagi saya merasa ada flek kecil warna pink samar dan perut saya agak mulas. Mulasnya hilang timbul dan hampir ngga berasa jadi saya ngga terpikir itu kontraksi menjelang lahiran. Saya cerita ke Uda dan kami memutuskan sorenya akan ke dokter untuk bertanya soal flek itu. Saya pernah kena ISK juga saat trimester dua jadi yang ada di pikiran kami ya gangguan kehamilan, bukan tanda-tanda melahirkan. Toh HPL masih 2 minggu lagi ini..

Tiba-tiba saat akan akan wudhu untuk sholat Dzuhur, saya merasa ngga nyaman di bagian bawah. Saya pikir keputihan berlebih tapi ketika saya cek ke kamar mandi, jeng....jeng..... underwear saya sudah penuh lendir darah. Kayaknya itu mucus plug ya? Iya bukan ya? Tapi kayaknya gitu di 101 persiapan persalinan. Saya agak ngeblank dan manggil-manggil si Uda ke kamar mandi. Begitu melihat yang saya tunjukkan, Uda yang sedang bebersih rumah langsung freak out. Mukanya panik dan mengajak saya langsung ke RS saat itu juga.

Saya masih sempat setrika baju untuk saya dan Uda pakai ke RS sambil berpikir itu darah apa dan mengingat-ingat cara nafas yang diajarkan di kelas persiapan melahirkan. Siapa tahu itu beneran mucus plug. Ah tapi masa iya..

Uda memutuskan membawa tas lahiran ke RS (orangnya well-prepared banget) padahal saya santai-santai aja dan masih ngga yakin akan lahiran sebelum HPL. Sesampainya di RS dan menceritakan tentang lendir darah ke dokter di IGD, ternyata dokter memutuskan agar saya didorong menggunakan kursi roda ke ruang VK. Saya akan diperiksa bidan di sana. Saya mikir kok ya lebay amat ngga boleh jalan kaki tapi saya ngga protes karena enak juga kan tinggal duduk nyampe di tempat tujuan. Sepanjang jalan menuju VK saya googling kepanjangan VK dan jadi deg-degan karena ternyata kepanjangannya adalah Verlos Kramer. Alias Ruang Bersalin. Cuy, ngeri ugha.

Itu sebenarnya bukan kunjungan saya yang pertama ke ruang VK. Trimester sebelumnya saat kena ISK, saya juga dicek bidan di ruangan itu. Tapi saya ngga notice kalau itu ruang bersalin karena emang sepi banget ngga ada ibu-ibu lahiran. Fyi, RS dekat kontrakan saya ini bukan RS ibu dan anak tempat saya biasa kontrol. Tapi dokter obgyn saya juga praktik di sini. Karena RS umum, ruang bersalinnya juga ngga selalu ada pasien.

Setelah turun dari kursi roda dan berbaring di ranjang pasien, bidan datang membawa alat untuk mendengarkan detak jantung bayi. Saya lupa apa namanya. Jantungnya stabil dan kuat, alhamdulillah. Karena cerita saya tentang lendir darah itu, bidan memutuskan untuk cek bukaan. Walaupun masih jauh dari HPL tapi ada kemungkinan persalinan yang maju. Apalagi riwayat menstruasi saya yang tanggal tiap bulannya selalu maju satu atau dua minggu.

Yang namanya cek bukaan itu ternyata SAKIT, sodara-sodaraaaaa. Saya sering membaca cerita persalinan dan banyak yang bilang cek bukaan itu rasanya ngga nyaman. Itu diperhalus banget apa gimana bahasanya. Ini beneran SAKIT bukan cuma ngga nyaman. Bidan memakai sarung tangan karetnya, tersenyum meyakinkan dan bilang "ngga nyaman sedikit ya Bu, coba rileks aja". Dan tangannya mengecek sampai ke dalam. DALAM. Sampai menyentuh rahim dan rasanya itu ngilu plus bikin mulas. Hasil cek bukaan adalah lendir darah itu beneran mucus plug, yang berarti segel rahim saya udah kebuka dan tinggal tunggu waktu untuk melahirkan. Bidan juga berkata kalau saya udah bukaan dua. Wew. Saya dan Uda ketawa-ketawa panik.

(Bersambung ke bag 2)

Wednesday, May 8, 2019

Mom-shaming pft

Lamaaaa sudah saya absen dari menulis di blog. Tapi hari ini saya merasa perlu banget media untuk lashing-out. Wkwk.

Jadi hari ini saya kena mom-shaming oleh seorang teman dekat. Beliau sudah dua kali ini, kalau saya tidak salah hitung, tidak menghargai pilihan pribadi saya. Mau curhat ke suami kok ini belum waktunya buka ya, masa mau saya ajak ghibah 😂. Akhirnya here we are..

Pasca lahiran Allebaby my firstborn, saya memilih tidak memasang alat kontrasepsi IUD. Selain takut (hahaha), saya juga merasa umur saya udah di ujung masa subur jadi ya kalau mau bereproduksi inilah saatnya. LoL. Tentu saja saya dan suami masih berusaha memberi jarak kelahiran dengan cara ASI eksklusif (yang menurut penelitian menurunkan kesuburan), mencatat masa subur, dan juga Azl. Tapi qadarullah, 3 bulan lalu, saat Alle baby berumur 8 bulan, saya iseng pakai testpack dan ternyata garis dua lagi sodara-sodaraaaaa. Alias kesundulan nih. Hahaha.

Keluarga dan teman-teman merespon positif hasil tes yang positif ini (eak). Beberapa mungkin khawatir karena posisi saya tinggal di perantauan dan no ART. Takut saya kecapean (emang iya dan beberapa kali bikin flek huhu). Tapi ada nih satu orang teman saya yang bikin saya kurang nyaman responnya. Beliau tahu saya hamil dari teman yang lain. Langsung japri saya dan bertanya dengan nada judging (ketikan judging). Dia ingin tahu kenapa saya nggak IUD (oke masih wajar), emang saya udah siap secara finansial (hmm?), dan yang terakhir paling bikin saya keki beliau bilang kasihan Allebaby, semoga Allebaby masih terawat (what on earth??)

Ada masalah apa sih sama orang-orang yang secara sadar ngomong nggak enak ke orang lain? Apalagi muslim ya, pasti familiar banget sama "berkata baik atau diam". Misal pemicu beliau ngomong nggak enak ke saya memang karena khawatir dengan Allebaby, pilihan katanya bisa dong yang nggak judging begitu ya. Misal nggak setuju dengan pemberian sufor (karena pada saatnya nanti ASI saya akan berubah jadi kolostrum dan kuantitasnya nggak mencukupi kebutuhan energi Allebaby) ya cara ngomongnya bisa tuh kayak dokter obgyn saya. "Bu, sebisa mungkin ASI masih dikasih ya, kolostrum itu baik buat kecerdasan. Tapi kalau dari segi kuantitas memang kurang, jadi mpasi nya ditambah. Atau boleh juga tambah susu UHT di atas satu tahun". Misal si teman khawatir Allebaby kurang kasih sayang, ya apa kek kirim artikel psikologi bagaimana sebaiknya orangtua dengan anak kelahiran jarak dekat menyiasati sibling jealousy. Perhatian dan julid beda tipis tapi tetap terasa bedanya. Bilang semoga anak saya tetap terawat itu JULID, sis. Tak kepruk ulekan lho drijimu.

Sungguh memancing esmosi.

Setelah japri pedas boncabe level 10 itu (yang ajaibnya saya tanggapi dengan kalem), beliau posting di sosial medianya. Entah ini cocokologi saya saja, atau memang berkaitan, beliau posting tentang bagaimana beliau selalu berusaha maksimal jika menginginkan sesuatu. Mulai dari sekolah, melamar kerja di tempat bergengsi, sampai sekarang beliau ingin hamil pun dipersiapkan dengan baik, tidak hanya menunggu keberuntungan. Hmm, kalau ini ada kaitannya dengan saya, yah berarti beliau menganggap saya beruntung? Alhamdulillah ya 😅😅😅

Pengalaman terlempari (wkwk) mom-shaming ini membuat saya banyak istighfar dan berjanji pada diri sendiri untuk nggak melakukan hal yang sama pada orang lain. Menjadi ibu itu sudah cukup menyita energi lahir batin, jangan ditambah kurang kerjaan nyakitin hati ibu-ibu lain. Atau menjudge pilihan pribadi mereka. Kalau niatnya baik, harus ada effort mikir cara penyampaian yang baik. Kalau ada masalah di rumah tangga sendiri, jangan lashing out ganggu kehidupan orang lain (eak). Mending curhat di blog kayak saya. Yang diperlukan ibu-ibu, terutama teman dekatmu yang sudah jadi ibu-ibu adalah dukungan, empati, dan nasihat yang disampaikan dengan lemah-lembut.

Sekian curhatan saya siang ini. Mau ke toilet lagi buat muntah-muntah mumpung my firstborn lagi tidur siang.

Wassalam.

Sunday, May 7, 2017

Baper is my middle name


Persiapan pernikahan suka bikin cranky dan baperan gajelas ga sih? Apa cuman saya aja yang lebay gini? Ketika calon groom ga bales texting tentang printilan nikahan, saya jadi nyampah alay ke teman-teman dekat. Ugh. Sorry. This too shall pass kan ya?

Thursday, January 12, 2017

The Ring Hunter

Janji saya di postingan sebelumnya adalah bercerita tentang persiapan pernikahan. Cerita yang detail sampai ke pencarian vendor-vendor (halah) pasti akan berguna untuk calon pengantin yang lain di masa depan.

Tapi sayangnya saya suka tiba-tiba mager dan berubah pikiran. Wkwkwk.

Seperti postingan yang ini-pun awalnya saya ingin menuliskan pencarian tjintjin untuk lamaran. Fyi, pemberian cincin saat khitbah cuma kebiasaan aja sih. Custom di keluarga saya, saat meminang, pihak laki-laki akan memberikan kain batik (songket karena calon suami saya Urang Awak 😂) dan cincin sebagai tanda permintaan.

Nah, kemudian saya mager deh.

Tapi saya sadar saat menyiapkan hajat besar seperti pernikahan, saya butuh sebanyak-banyaknya do'a bukan kutukan dari pembaca yang sebal. Maka akan saya tuntaskan tulisan yang tidak begitu helpful ini.

Seperti kebanyakan calon pengantin kekinian (ah elah), hal pertama yang saya lakukan ketika akan mencari cincin adalah browsing. Banyak sekali informasi yang saya dapat tentang toko perhiasan, harganya, dan juga pelayanannya. Setelah mengantongi berbagai info tersebut, di suatu Jum'at siang saat jam istirahat kantor, saya meluncur ke Cikini Gold Center. Pusat emas ini saya pilih karena paling dekat dengan wilayah kekuasaan saya walaupun di kemudian hari saya tahu kalau CGC ini emang terkenal bangettz. 

Pertama kali yang saya lakukan saat masuk pusat jual beli emas adalah bengong. Tokonya banyak bana yo, paniang pala adiak 😂. Lalu saya mulai bergerak ke arah toko-toko yang paling ramai pengunjungnya. Setelah bertanya dengan gagap saking gugupnya, saya memutuskan melihat-lihat ke toko yang lebih sepi juga. Siapa tahu yang ramai tadi pengunjung bayaran anak buah Elly Sugigi kan? Ternyata memang toko yang lebih sepi menawarkan harga emas yang lebih tinggi (bisa gitu ya 😐) atau menjual perhiasan segede gaban yang mungkin hanya akan dikenakan ibu-ibu pejabat. Sesi berkeliling hari itu memberi saya ide bagaimana bentuk cincin yang saya inginkan serta harganya (Oktober 2016 harga emas pergram 470K an).

Sabtu depannya saya berhasil membujuk si Uda yang quote favoritnya "cari sendiri ya, ntar gue transfer aja" untuk datang ke CGC. Hal ini diperlukan karena saat memesan cincin jari kita akan diukur (ya iyalah) dan sebagai calon istri yang posesif saya ingin Uda juga mengenakan cincin. Pilihan bahan cincin untuk lelaki muslim yang tidak boleh mengenakan emas sekarang sudah cukup banyak sih. Ada perak, palladium, dan platina.

Hari itu kami menuju ke toko kecil yang cukup ramai di pojok belakang lantai utama CGC. Toko ini banyak dibahas di blog-blog calon pengantin karena produknya bagus (saya sendiri kurang bisa menilai) dan pelayanannya memuaskan. Soal pelayanan memang benar sih, koko nya ramah dan helpful. Kita bisa leluasa bertanya dan si koko akan memberikan rekomendasi sesuai budget. Wow.

Sekitar enam menit kemudian, saya dan Uda sudah menemukan bentuk cincin yang kami inginkan (ini seharusnya masuk rekor MURI untuk pemilihan cincin tercepat sih) dan si koko mulai mengestimasi harga setelah mengukur jari kami. Ukuran jari dan bentuk cincin mempengaruhi berat cincin dan berapa yang harus dibayar nantinya. Karena jari saya cukup kecil maka diperkirakan berat cincin sekitar 3-4 gram dan Uda dua kali lipatnya. 

Cincin diperkirakan selesai dalam satu bulan namun ternyata bisa kelar dalam dua minggu (horeee) dan beratnya juga sesuai estimasi awal si koko. Cincin kita dapatkan sekaligus dengan kotak beludru kecil yang cantik dan beserta suratnya dimasukkan dalam dompet vinyl warna biru muda. Oh iya, nama tokonya Kenanga dan nomor ponselnya akan mudah ditemukan saat browsing (saya males banget buka daftar kontak 😂)


Sekian sharing kali ini semoga lebih banyak manfaat daripada mudharatnya. Wkwkw.




Sunday, January 8, 2017

hello there 2017

Assalammualaikum..

Been almost five years since the last time i wrote on this blog. Many unexpected things have happened during my absence on blog and two of them were so life-changing. I was devastated when my one and only sister passed away unexpectedly. But then i met my future husband unexpectedly, too. We all plan but Allah plans are the best, no?


Anyway i want my posts to be in lighter and cheery tone. Not sad like my face. LoL. So from now on i will write about my wedding preparation. Woohooooo i'm on my way to be a wifeyyyy....

Well enough for now, i need to focus my energy to do study on wedding-souvenir-searching. See ya~

Wednesday, October 24, 2012

Apa dong?

Biasanya sebisa mungkin saya bikin aturan satu postingan tiap bulan agar tidak lupa kalau saya punya blog. Haha, tidak penting sih alasannya dan postingannya juga...lebih tidak penting lagi. Tapi beberapa bulan terakhir hidup saya terasa agak kelam *lebay* dan kekelaman itu menyedot energi saya. Energi yang dalam keadaan normal agak surplus dan saya salurkan dengan melakukan kegiatan aneh, salah satunya blogging. Alhasil, bulan Juli, Agustus, dan September blog ini nihil tulisan.
 
Tapi sekarang, saya sudah kembali, amigo, fufufufu..
Dan ini postingan comeback saya yang fantastis. Fantastis absurdnya.

 "jadi sebenarnya inti tulisan ini apa sih?," pikir orang-orang yang terjerumus membaca.

 "iya ya, apa sih?," saya sendiri juga ingin tahu. Enaknya apa dong?  





n.b: dibuat dalam keadaan trance setelah mabuk teh botol dan gambar-gambar unyu di atas diambil secara paksa dari dramabeans.com

Monday, June 11, 2012

lelaki bermata laut


Kau tahu, hari ini aku merasa ingin sendiri saja di sini. Menikmati langit, angin, pepohonan dengan kera-kera kecil berayun di pucuk-pucuknya, dan air asin yang menyelimutiku sampai ke dagu. Aku tak mau ada kamu. Aku tak mau perhatian dan apresiasi atas keindahan ini terdistraksi olehmu.

Berenang sendiri saja sana, susuri karang-karang rendah tempat bersembunyi hewan-hewan kecil itu. Atau tunggu saja di depan tendamu.

Nanti, setelah puas aku menyesap alam yang menggodaku ini, kau akan kuhampiri. Kita akan duduk berdempetan di atas pasir, terhangati kehadiran masing-masing. Aku akan mendengarmu bicara, meneguk keberadaanmu. Sesekali aku menatap matamu sebelum kembali menekuri bulir-bulir pasir yang menggelitik jemari kakiku.

Nanti, itu nanti. Sekarang biar aku merasai belaian lautan dan segala hal yang terhubung dengannya. Kau tak perlu menguatirkan kealpaanku atas keterampilan berenang. Aku tak akan tenggelam di lautan ini, aku hanya bisa tergulung ombak dan tenggelam di laut matamu.






p.s. sedang terjadi hubungan arus pendek dalam otak saya sehingga muncul ‘sajak’ absurd macam ini. too lame yak? >.<

Tuesday, June 5, 2012

apa yaaa

booyah \(^o^)/
udaranya enak hari ini.jadi ngantuk.hehehe



n.b baru tahu kalau n.b itu kepanjangannya notabene ya.akakak

Thursday, March 29, 2012

to be a jobseeker, to be grateful


Sudah hampir tiga bulan saya sibuk menganggur (ambigu :3). Mencari kerja tentu jalan terus tapi karena jeda antar tes agak berjauhan, sebagian besar waktu saya bisa dibilang habis untuk bersantai. Leyeh-leyeh ndek hamur karo kukur-kukur begitu lah. Hehe. Beberapa teman yang juga berprofesi (halah) jobseeker sudah mulai lelah tes ini-itu dan jadi emosian. Iri berubah jadi dengki, rajin mengeluh, dan mulai su’udzon pada Tuhan. Naudzubillah.

Nasihat untuk sabar seringkali dibalas cibiran “lha kon sek dilut nganggure, ayas iki wes meh setahun” (lha kamu masih sebentar menganggurnya, saya sudah hampir setahun) lengkap dengan pelototan jengkel. Tentu saya juga seringkali merasa jengkel karena mengonggok di rumah saja. Sudah masuk umur dewasa muda, tapi kemampuan finansial tak ada beda dengan balita. Belum mampu memberi apa-apa pada orang tua. Merasa tidak berguna.

Tapi kata-kata kedua orangtua saya kemarin siang serasa siraman air dingin yang menyejukkan. Memotivasi sekaligus mendorong saya untuk lebih bersabar. Berhubung ayah dan ibu saya bukan tipe Golden Ways, tentu saja mereka bukannya mengacungkan tinju ke udara sambil berteriak “jadilah sejahtera dan menyejahterakan orang lain” di hadapan saya. Lebih implisit, agak smooth gitu (opo se iki?). Jadi kemarin saya membuat jus semangka untuk diminum orang serumah. Setelah memberikan jatah masing-masing ke ayah, ibu, dan adik yang sedang berkumpul di ruang tamu sekaligus ruang keluarga sekaligus ruang makan sekaligus garasi (tempat apa ini sebenarnya? :3), saya kembali ke dapur. Sehabis meminum jus semangkanya, ayah dan ibu saya berbincang-bincang dengan tidak berbisik-bisik. Yang maksudnya sih, supaya saya dengar.

Ayah: “Duh, enake duwe anak wedok pengangguran. Malih sering digawekno jus” (Duh, enaknya punya anak perempuan pengangguran. Jadi sering dibuatkan jus)
Ibu: “Iyo,ngene iki kudu bersyukur. Mene lek wes kerjo adoh mosok sempat” (Iya, begini ini harus bersyukur. Besok kalau sudah kerja di tempat yang jauh mana sempat)

Saya jadi senyum-senyum kebelet nangis di dapur. Percakapan ayah dan ibu menyemangati saya, saya tidak akan selamanya jadi pengangguran. Pada saatnya nanti, saya akan mencicipi pahit-manisnya bekerja di perantauan. Ayah dan ibu juga membuat saya merasa less useless. Belum bekerja bukan berati saya tak berguna karena guna tidak hanya datang dari sisi materi. Saya memang belum bisa membantu keluarga secara materi tapi sekarang saya sudah bisa melakukan apa yang dulu tidak bisa saya lakukan (hah,mbulet). Contohnya kalau dulu saat masih kuliah semester-semester awal saya ngekos sehingga tidak bisa membantu ibu di rumah, sekarang saya bisa. Kalau dulu saat sudah tidak ngekos-tapi-masih-skripsi saya sibuk bertapa mencari wangsit, sekarang punya waktu lebih longgar untuk berinteraksi dengan adik. Saya sekarang bisa meringankan beban ibu, membantu adik, dan merawat ayah yang sedang sakit.

Alhamdulillah.

Semua tergantung bagaimana kita memandang berbagai situasi. Kehujanan saat naik motor itu bisa kita anggap bencana tapi bisa juga menjadi hal yang menyenangkan, ingat bagaimana kita begitu girang main hujan-hujanan saat masih kecil. Pun kejadian aneh saya merobohkan pintu ruang interview saat tes kerja. Saya bisa menangisi kemalangan yang mengancam kemungkinan diterimanya saya bekerja di tempat itu, belum lagi rasa malunya, terkilirnya tangan, atau lepasnya pita sepatu saya yang paling mahal karena saya gunakan untuk menahan beban pintu. Tapi saya juga bisa menanggapinya dengan sederhana. Saya bisa tertawa lepas karena kekonyolan itu terlalu komikal dan absurd dan membuat peserta lain yang tegang jadi agak rileks karena menertawakan saya. Ah, jadi cerita hal lain ya.

Intinya saya memang belum bekerja, tapi bukan berarti saya fully menganggur. Toh masih banyak yang bisa saya kerjakan, termasuk meng-improve seni memasak. Saya yang dulu selalu, anehnya, membuat nasi goreng yang rasanya pahit (usut punya usut ternyata bawangnya gosong :’)) sekarang sudah bisa membuat konsumen minta nambah lagi. Icik icik ehem ehem :p

Jadi, hai kawan semua, doakan saya bisa selalu dalam keadaan sadar seperti saat ini. Bersyukur, optimis, mengurangi rasa malas, dan mengurangi kegiatan mengeluh. Karena usut punya usut (halah) hal yang paling melelahkan adalah mengeluh. Keluhan akan menguras energi fisik dan mental. Membuat kita berpikir yang pahit-pahit dan kehilangan tenaga untuk terus berjuang.

Oiya, sekarang saya sedang gandrung pada surat pendek Al-Insyirah, hampir tiap sholat saya lafalkan (Tuhan, semoga Anda tidak bosan). Bahkan saat mengendarai sepeda motor sepulang dari meminjam komik. Surat ini juga menambah nyawa optimisme saya *cium-cium Qur’an.

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai, tetaplah bekerja keras. Dan hanya pada Tuhanmulah engkau berharap” (94:5-8)

Sunday, February 5, 2012

Life Changes

Saya ternyata tak bisa selalu jadi kanak-kanak tanpa beban yang selalu bahagia. Aman dalam lindungan kedua orang tua, dalam rumah yang menghangatkan jiwa.

gambar diambil dari...ah saya lupa


Saya ternyata tak bisa selalu jadi remaja dengan pikiran sempit yang terombang-ambingkan tragedi asmara. Pedih superlatif berasal dari patah hati saja.

Saya ternyata harus tumbuh dewasa. Menyaksikan kedua orang tua menua dan nanti di satu titik, saya yang berganti melindungi mereka.

Saya ternyata harus menjalani proses menjadi dewasa itu tidak dengan biasa-biasa saja. Jalannya berkelok, naik turun, dan belum diaspal.

Saya ternyata bisa menjadi pahit, pesimistis, dan iri pada takdir orang lain kalau saja tak ingat masih punya iman. Masih ada Tuhan.

Sunday, December 25, 2011

The Unfortunate Series of Cabbages

taken from random googling


Atas nama pencitraan :p, jarang sekali saya menuliskan perasaan saya yang sebenar-benarnya di media sosial. Tapi terkadang, saat kantong keluhan telah penuh, ada juga perasaan yang tidak sengaja menetes di sana-sini. Hmm, postingan ini salah satunya. Hmm, sangat tidak penting dan annoying. Watchout :D

Kantong keluhan imajiner saya kali ini meluber-luber karena saat saya sedang tegang fisik dan mental menjelang ujian kelulusan, kemampuan 'habluminannas' turun drastis. Nah, kemampuan yang turun drastis ini kemudian membuat saya menghadapi orang lain dengan raw, lupa mengendalikan analisis dan lidah, lupa melindungi perasaan orang lain. Maka saya paling ngeri berinteraksi dengan individu-individu yang lembut hati dan vulnerable pada keadaan seperti itu. Because soft-hearted and vulnerable people will look like cabbages when i'm the knife. Instinctly, i want to cut them to pieces, rite? Dan tadaaaa, berjejerlah barisan teman-teman sakit hati terkena omongan jahat saya..

Well i know i'm not at no-fault point. Tapi tapi tapi........  :p

Tapi kadang saya merasa agak tidak adil juga kalau setiap yang lembut-lembut langsung dianggap korban, sedangkan yang keras-keras (*oho,bias ya) langsung dicap sebagai the evil doer. Padahal banyak alternatif kemungkinan selain pakem so-called-evil jahat, so-called-angel baik. Untuk referensi, coba lihat film You Again atau drama korea My Love, Patzzi dan Cinderella's Stepsister (*referensi yang tidak meyakinkan ya :p). Terkadang si angel-lah si antagonis berjiwa manipulatif atau keduanya protagonis, hanya saja terjebak dalam situasi yang salah.

Jadi, jadi, jadi, wahai para pribadi klise yang dengan tergesa-gesa melabeli sharp=evil doer, soft=holly angel, coba berpikirlah dengan lebih menyeluruh sambil membuka mata, hati, telinga lebar-lebar. Dan bagi para lelembut yang merasa pernah tersakiti perlakuan kejam saya, gunakan 5-10 menit waktu senggang untuk berpikir ulang dengan kepala dingin. Kalau kamu ingin saya mengerti, sudahkah saat itu kamu mengerti keadaan saya? Kalau kamu lelah menghadapi kata-kata tajam saya, apa saya tidak boleh lelah menghadapi kegoyahan hatimu? Kalau kamu berkeras dan berkata "saya tidak goyah!", apa saya tidak boleh bilang "saya hanya berusaha jujur" ?

Ah, sudahlah. Enough curhat-curhatan ababil. Off to cut the cabbages (*hey, it,s for salad) :)
p.s:errrrr,title taken from random memories 

Monday, November 28, 2011

The First Daughter's Horror


Ini postingan random dan sedikit galau oleh saya, yang sedang sibuk jadi time-waster dan sibuk pula cari-cari alasan untuk men-skip pengerjaan skripsi (lagi). Padahal tinggal revisi sedikit (definisi 'sedikit' agak bias,sih.haha), maka saya sudah bisa berteriak 'Hasta La Vista Kehidupan Mahasiswa!' dengan lantang.

Intinya sih, saya lagi pengin cerita tentang betapa beratnya beban hidup sebagai first daughter, err, anak perempuan pertama maksudnya, fyi: (tentu saja) bapak saya bukan presiden. Ah ya, saya first granddaughter juga dari kedua pihak orangtua saya. Beban hidup itu adalah ditanya-tanya dan digadang-gadang untuk segera walk down the aisle dengan pasangan yang seiman, mapan, dan tampan. Heheu.

Awalnya sih, topik itu cuma diangkat sesekali ketika saya berkunjung ke rumah nenek yang terletak di desa, dengan hubungan antartetangga yang masih sangat erat. Kalau yang ini saya tidak merasa tergengges karena sudah terjadi sejak saya menginjak remaja. Para panelis pun hanya tetangga-tetangga yang standar usia pernikahannya berbeda dengan saya dan keluarga. Saya malahan senang karena kerap diperbincangkan dengan kalimat seperti: 'aduh,putune wes perawan', dalam artian sudah cukup dewasa. Somehow, disebut perawan membuat saya merasa seksi, entah apa hubungannya :p

Tapi lambat laun usia saya pun mendekati usia standar pernikahan keluarga saya. Dan para nenek serta tante mulai menjadi gerah. Setiap ada reuni keluarga besar dan beberapa sepupu jauh sebaya membawa calon pasangannya, saya waswas mengamati reaksi para tante. Mata para tante tajam mengawasi saya, tersenyum senang seperti melihat barang diskonan, or else. Hehe.

Akhir-akhir ini do'a nenek setiap saya memeluknya saat datang berkunjung juga agak di-improve. Yang dulunya hanya mencakup poin anak berbakti dan kesuksesan akademis, kini ditambah (i've guessed this before, sigh) jodoh. Dan makin hari do'a tentang poin terakhir ini makin eksplisit dan detail.

Pergerakan nenek yang sangat smooth ini membuat saya lengah dan lupa dengan barisan para tante. Sampai suatu hari, tante yang terdekat dengan saya mengajak ngobrol berdua, wajahnya penuh senyum. Hm, saya merasakan dorongan ingin lari. Ada yang tidak beres. Tante berbicara dengan sangat smooth juga sih, tapi substansi dialog ini jelas sangat hardcore.

"Kamu mau nggak, Tante kenalkan dengan....."

Nooooooooooooooooooooooooo. Jangan Tanteeeeeee, saya masih terlalu mudaaaaaaaaaaaaa......

Rupanya Tante menyadari muka saya yang memucat, bibir membiru, dan senyum tipis saya yang mirip psikopat Ibu Dara.

"Kalau nggak mau, nggak pa-pa sih. Tapi mbok ya pacarnya sesekali dibawa ke sini, dikenalin," Tante tersenyum malu-malu. Saya jauh lebih malu lagi.

Setelah peristiwa horor babak pertama, yang unfortunately rasanya bukan yang terakhir itu, kehidupan saya kembali (agak) normal. Tidak ada acara reuni keluarga dalam waktu dekat sehingga saya bisa bernafas lega..... sampai kemarin. Sampai sebelum saya mendengar percakapan Ibu dengan teman lamanya di telepon. Fyi: saya tidak menguping, saya sedang mengobrol santai dengan Ibu saat ada telepon masuk, dan Ibu membiarkan saya mendengar percakapan itu. Entah kenapa saya harus menjelaskan, ya (O_o)\

Ibu : Kapan mampir ke rumah?
Teman : Nanti aja kalau 'njenengan mantu
Ibu : ........... (lalu menoleh ke arah saya dengan senyum senang seperti melihat barang diskonan)

Lalu saya bersiap untuk adegan babak berikutnya, saya buka gulungan skenario kehidupan asmara (yang diinginkan keluarga) dengan hati berdebar-debar,,

Title : First Daughter's Horror
Author : Destiny
Chapter Two

Fade in........



ps: image taken from marieclaire via dramabeans

Sunday, August 28, 2011

141 or 142 days to go


Kebiasaan buruk kalau sudah kumat stalking adalah nemuuu aja keburukan dan kekurangan diri sendiri dibanding dengan korban stalkingan. Huah. Kegiatan gak sehat, bikin penat, tapi semoga Tuhan tidak sampai melaknat :#)